7.07.2008

Resep Mengenal ISO

Lia gurun (as requested gue tulis nama panggung lo tuh. Puas??!!) bertanya : apa fungsi angka-angka 80,100,200,400 dst pada kamera (digital)?

Maksudnya udah pasti angka-angka ISO. Good question, Li! Hal sederhana tapi sering diabaikan. Apalagi kalo di kameranya ada settingan Auto, pasti udah terlena dengan keotomatisan tersebut. Cari gampang, ISO diset AUTO aja. Akhirnya dapet hasil foto yang kurang memuaskan. Mari gue coba jelasin dengan segala keterbatasan gue dan dalam konteks food photography *lah ini sebenernya food blog apa tempat kursus foto seh?*.

Apa sih ISO?
Jaman dulu mungkin sering denger ASA? Ada ASA 100, 200, 400 bahkan 800. Ya 11-12 lah sama ISO. Well, ISO di sini mengacu pada sensitivitas film (pada kamera digital, image sensor, selanjutnya akan gue sebut image sensor karena kita berbicara dalam ruang lingkup digital) terhadap cahaya. Sebelum beranjak lebih jauh, gue cuman mau ingetin, ada 3 hal penting yang berpengaruh pada eksposur : aperture, shutter speed (kecepatan) dan ISO. See, ISO gak boleh disepelein.

Woo woo woooo, kompleks amat, ada aperture, ada kecepatan, ada ISO??? Tenang, mari kita urai pelan-pelan. Gue coba fokusin ke urusan ISO, walopun gak mungkin rasanya ngoceh soal ISO tanpa nyrempet-nyrempet urusan aperture dan shutter speed *senggol dikit gak papa lah ya*.

Angka-angka ISO menunjukkan seberapa sensitif image sensor terhadap cahaya, semakin kecil angka, misal 100, image sensor kurang sensitif (kurang bukan berarti tidak) terhadap cahaya. Sebaliknya, semakin besar angka, misal 1600, semakin sensitif image sensor terhadap cahaya.

Apa sih maksudnya sensitif di sini? Kurang sensitif atau sensitivitas rendah maksudnya image sensor harus terekspos dengan cahaya lebih banyak. Itulah sebabnya jika memotret di tempat kurang cahaya let's say dipojokan kamar yang jendelanya ketutup lemari trus motretnya di kolong meja....huekekekekkk, kita butuh ISO tinggi. Nah, settingan ISO tinggi ini akan menolong image sensor dalam menangkap cahaya sebanyak-banyaknya.

Foto ini gue ambil di lorong apartemen tanpa ada lampu yang menyala, gue menggunakan ISO 1600 supaya image sensor dapat menangkap banyak cahaya. Image rada blur karena gue agak goyang :P.



Nah, kalo yang ini pake ISO 100, see kecepatannya jadi rendah, gue gak pake tripod :P, makanya jadi goyang dombret.




Sebaliknya, jika kita memotret obyek di tempat terang benderang silau milau, gunakan ISO rendah. Karena image sensor udah kebanjiran cahaya maka gak perlu lagi ISO di set menjadi sensitif (baca: pake ISO tinggi), cukup yang kadar sensinya rendah aja, 100 misalnya.


note : gunakan ISO rendah untuk tempat terang seperti ini (diambil jam 12 siang dengan direct light),
kalo nekad juga pake ISO tinggi, hasilnya akan seperti ini



Apa yang terjadi kalo kita motret di tempat gelap dengan ISO rendah? Jawabnya bisa gelap, bisa terang. Loh??
1. Gelap : ISO rendah dengan angka aperture besar (misal f/16) atau ISO rendah dengan kecepatan tinggi (misal 1/200). Penjelasannya gini, udah ISOnya rendah means gak sensi sama cahaya, pake angka aperture besar atau kecepatan tinggi yang sama-sama gak maksimal nangkep cahaya, ya hasilnya bakal gelap.


note : prioritas pada Speed, Aperture menyesuaikan

2. Terang : ISO rendah dengan angka aperture kecil (misal f/2.8) atau ISO rendah dengan kecepatan rendah. Resikonya kita harus menggunakan tripod supaya gak goyang dombret. Penjelasannya : ok kita pake ISO rendah means kurang sensi sama cahaya trus keukeuh supaya hasil pengen terang, ya bisa aja dikompensasi di angka aperture-nya ato utak-atik speednya. Set ke angka aperture kecil misal f/1.8 atau pake speed lambat supaya image sensor punya kesempatan untuk menangkap cahaya sebanyak-banyaknya dan menghasilkan gambar yang cukup cahaya. Silahkan gunakan cara ini untuk mendapatkan mood tertentu pada foto tapi inget sedia tripod.


note : prioritas pada Aperture, Shutter speed menyesuaikan

Trus kalo kita motret di tempat terang benderang pake ISO tinggi gimana? Jawabnya bisa terang (normal) dan terang buanget bikin silau.
1. Terang/normal : ISO tinggi dengan angka aperture besar atau ISO tinggi dengan kecepatan tinggi.


note : prioritas pada settingan Aperture, Shutter speed menyesuaikan

2. Terang banget atau burned out : ISO tinggi dengan angka aperture kecil atau ISO tinggi dengan speed lambat. Penjelasan : ISO tinggi means sensi cahaya, trus pake angka aperture kecil yang punya kesempatan menangkap cahaya lebih banyak, atau pake kecepatan rendah yang membuka pintu selebar-lebarnya untuk cahaya masuk. Bayangin semua ngasih angin buat cahaya, alhasil foto kebakaran alias terang banget alias burned out.


note : prioritas pada settingan Aperture, Shutter speed menyesuaikan

Puyeng amat sih?! Makanya pelan-pelan kita kenalin dulu si ISO ini. Coba gunakan ISO pada tempat dan porsinya. Khusus untuk food photography gak bakal susah kok. Obyeknya still gak moving. Kita udah taulah medannya, bagaimana kondisi cahayanya, udah ketebaklah. Jadi gunakan ISO yang pas. Lagipula ini kamera digital gitu loh. Utak atik deh ISOnya untuk tau perbedaan eksposur atau hasil fotonya. Gak bakal mejen kayak kalo pake kamera analog, musti nyuci film dan nyetak fotonya :P. Gue sendiri, untuk motret makanan dengan kondisi di area pinggir jendela, tidak direct light, sering menggunakan settingan ISO 200-400. Kalo pake 200 seringkali musti dibantu tripod biar gak goyang.


Spot favorit di pinggir jendela

Lah kan sebenernya bisa aja gue pake ISO 800 atau 1600? Yup benul!! Tapi ada tapinya nih! ISO juga berhubungan dengan kualitas image. Better quality akan didapat dengan penggunaan ISO rendah. Pernah denger NOISE? Bintik-bintik kecil sewarna, biasanya pada sebuah area gelap pada sebuah image. NOISE akan muncul pada penggunaan ISO tinggi. Dan pada saat image di blow up akan terlihat pecah. Untuk beberapa kepentingan sih, NOISE emang sengaja dicari untuk keperluan artistik, tapi buat gue pribadi, mending melakukan itu di post processing/editing.

Coba perhatiin foto ini (image ini sudah diperbesar), di area yang gelap banyak terlihat bintik-bintik kecil atau NOISE, karena diambil menggunakan ISO 1600



Untuk food photography saran gue gunakan/prioritaskan pada ISO-ISO rendah. Coba main-main dengan aperture atau shutter speed untuk mendapatkan eksposur yang maksimal.

Jangan cuman mengandalkan AUTO. Settingan ISO AUTO sering diprioritaskan ke ISO tinggi. Misal tempat gelap sedikit padahal gak gelap gelap amat, otomatis ISO nge-set ke tinggi. Dan tiba-tiba foto jadi NOISE semua.

Trus buat apa dong ISO tinggi? Pernah nonton konser atau pertunjukkan terus kita gak boleh pake flash supaya gak mengganggu jalannya pagelaran? Ato di museum yang sering gak boleh pake flash ato di ruangan yang kurang cahaya tapi gak mungkin pake flash karena kita harus ndapetin moodnya? Nah, di sini ISO tinggi berperan. Atau ya untuk keperluan artistik dari sebuah image yang butuh penampakan NOISE.

Teori gak bakal nyangkut kalo gak dipraktekkin. Coba eksperimen dengan berbagai settingan ISO, aperture dan shutter speed untuk lebih kenal performa kerja kameramu dan hasil yang diinginkan. Seperti yang sudah gue sebutin di atas, ISO, Aperture dan Shutter Speed adalah 3 hal yang saling mendukung untuk mendapatkan sebuah eksposur yang maksimal. Thanks to kamera digital yang memungkinkan lo merubah-rubah ISO untuk foto yang berbeda. Sekarang latihan dulu menggunakan ISO yang tepat, nanti setelah itu pelan-pelan dikombinasikan dengan penggunaan Aperture atau Shutter Speed yang pas :).

Mudah-mudahan penjelasan seadanya ini bisa dimengerti dan gak bikin bingung ya. Pokoknya dah nangkep kan garis besarnya ;). Good luck! Ditunggu hasil eksperimennya.

Sekedar gambaran penggunaan ISO yang berbeda-beda di area yang sama (lorong apartemen tanpa lampu) denga settingan diprioritaskan pada Shutter Speed (1/100).

1. ISO 100


2. ISO 200


3. ISO 400


4. ISO 800


5. ISO 1600




12 comments:

  1. berguna banget Dit. benul syekali, kudu kenal ama kamera. sering²lah bermain dengan ISO dan WB. gw sih seringnya ISO 100 biarpun juga malem hari. kecuali outdoor n bukan food photography baru setting ISOnya lbh tinggi. dan selalu pake tripod, soalnya hasilnya lebih ok.

    ReplyDelete
  2. hmmm gue juga dong mau rikues Dit, jadi asik nih belajar sama elo

    ntar kalo gue ada pertanyaan, ntar elo bahas ya *asiiikkkkkkkkk*

    ReplyDelete
  3. Mindoel : thanks Ndoel. Iya emang untuk food photography better ISO kecil. Musti rajin kutak-katik emang biar faseh ;).

    Sefa : yo oollooooo, jangan susah-susah, lo kata gue bu guru! :D

    ReplyDelete
  4. berguna nih bu... secara aku ngak pernah belajar photography, taunya ISO gede buat indoor, pantesan kadang2 fotonya suka terang benderang tapi ngak jelas kalo pake ISO 1600

    ReplyDelete
  5. diitt...di kamera gue ga ada ISO 100 heran dweehh...malah kalo iso kekecilan itu ceklikan suka ga bisa di ceklik..:(...

    tengkiyuuu makkk berguna nih boow

    ReplyDelete
  6. Ti : moga-moga gak bingung ya, Ti.

    Elsye : jadi paling rendah ISO brapa, Sye?

    ReplyDelete
  7. hi mba, salam kenal.
    abis baca postingan ini, sy coba kutak katik camera. Sy pakai pocket camera yg 4MP.
    yg mau sy tanya, kl mau motret jarak dekat, semua (Micro, ISO dan White Balance) harus di set ya? Trus light/blitz-nya di setting apa ya? Sy coba utk motret di ruang yg pakai lampu 14watt. Maaf kl pertanyaannya aneh bin oon :D

    ReplyDelete
  8. Halo Dita, salam kenal ya.
    Infonya berguna banget nih buat saya yang baru nyobain masak-masak dan foto-in makanan.

    ReplyDelete
  9. mbak dita... baru baca postingan yg ini, berguna banget, ijin di copas ya... soalnya kalo baca sekali aja gak mudeng, en klo baca lama-2 di inet suka pusing n sakit mata. thanks...

    ReplyDelete
  10. Wah mba Dita ini piawai ya dalam menjelaskan..,tidak membosankan dan mudah di mengerti.., mba Dita dosen ya?? :)

    ReplyDelete
  11. trus kan iso tinggi biar dapet gbr terang<.. klao pake flash iso perlu tinngi juga ga

    ReplyDelete
  12. ini ane mo tanya hehe,.. sori nubie banget,.. klo iso tinggi ditempat gelap flash jadi ga perlu ya,..
    jadi mending iso tinggi apa pake flash biar dpt gbr terang

    ReplyDelete

thanks for dropping by :)