8.06.2015

3 Ingredients No Brainer Cookies

Cookies ini loh yah, udah bahannya cuman 3 macem, bikinnya juga cuman diaduk doang. Makanya saya bilang no brainer....hahah!!

A photo posted by Dita Wistarini (@ditut) on


Anak SD juga bisa, makanya ini cocok banget buat proyek weekend bareng anak-anak. Mereka bahkan bisa bikin sendiri di bawah pengawasan kita.

Bahan-bahannya cuman 3 : Chocolate Peanut Butter Reese's, tepung terigu dan telur. Jika ingin cookiesnya lebih bertekstur silahkan tambahkan cacahan kacang/coklat nougat/permen reese's. Resep ini juga bisa dimodif loh. Hanya dengan mengurangi jumlah pemakaian tepung, jadilah cupcakes.

3 Ingredients Reese's Cookies

Ingredients :
1 cup Reese's spread/nutella/ovomaltine
15 tbsp all purpose flour for cookies / 10 tbsp all purpose flour for cupcakes
2 eggs
Almond/hazelnut/nougat etc (optional)

video


Directions :
Preheat the oven to 350 °F
Mix all of the ingredients using a whisker.
Scoop the batter onto your baking sheet, spacing the balls of dough roughly 2 inches apart. You can certainly go larger or smaller as you prefer.
Bake the cookies for 15 minutes.
Transfer the cookies to a rack to finish cooling completely.








8.05.2015

Churros

churros

Siapa yang gak suka churros? Saya inget banget, dulu jamannya masih kerja di Metro TV circa 2002, suka jajan churros di mal Puri Indah. Masih keinget enaknya, tapi kok ya gak inget namanya apa. Food stallnya kecil gitu, jualannya agak nyempil pula. Selain jual churros polos, mereka jual churros isi juga. Jadi memang churrosnya agak gendut. Terus kalo mo diisi, bagian ujungnya ditusukkin ke selang gitu. Duhhh endeus banget!

Nah terus sekitar 2-3 tahun kemudian saya main ke mal Puri, si churros itu udah gak ada...huhuhu.

Akhirnya saya jadi suka buat sendiri. Sebenernya resep dasarnya sama dengan resep kue sus. Kalo versi saya, gak gendut-gendut. Bikin yang langsingan biar makannya juga enak dan gampang buat anak-anak. Mau ditabur gula atau dicocol ke coklat, dua-duanya sama-sama enak.

Churros

Ingredients :
75 g butter, diced
250 ml cup water
115 g plain all-purpose flour
15 g caster sugar
3 eggs, lightly beaten
chocolate for dipping or powder sugar

churros

Directions :
1. Heat the butter and water in a small heavy pan until the butter has melted, do not allow the water to boil. Sift the flour and 15 g of caster sugar on to a piece of greaseproof paper.
2. Once the butter has melted bring to a boil, then add the flour and sugar. Remove the pan from the heat and beat the mixture vigorously. Leave to cool for 5 minutes, then gradually beat in the eggs until the mixture is smooth and glossy.
3. Half-fill a large, heavy pan or deep-fryer with oil and heat to 375 degrees F. Spoon the mixture into apiping bag with a star nozzle. Pipe the mixture into the hot oil being careful not to cause the fat to splash or spit. Fry the churros for 2 minutes or until golden and crisp.
4. Remove the churros from the oil with a slotted spoon and drain on kitchen paper. Repeat until all the mixture has been used. Dipped in chocolate or powder sugar. Serve.

Raspberry Lime Infused Coconut Water

Apa sih yang paling dipinginin saat summer gini? Minuman dingin pake es batu pastinya. Kalo abis pergi, turun naik stasiun subway, terus lari-lari ngejar bis di musim panas gini, sampai rumah yang dimauin cuman slonjoran di kamar yang dingin dan minum yang seger-seger.

Resep minuman dingin yang mau saya share ini bisa banget dimodifikasi, mau buahnya diganti atau air kelapanya diganti sprite juga bisa.

IMG_3045raspberry lime infused coconut water

Raspberry Lime Infused Coconut Water
Bahan-bahan :
Raspberry
Lime/Jeruk Nipis, iris tipis
Coconut Water
Es Batu

Cara Membuat :
Campur semua jadi satu di dalam gelas, kemudian beri es batu.

Gitu doang? Iyaaaaa! Hahaha maaf yah kadang sharing resep saya di blog ini yang model cemplung-cemplungin gitu doang.

N by Najla Kuwait

pearls

Setelah mengerjakan beberapa proyek dengan Lorenzo Kuwait, Lulu meminta saya untuk melakukan pemotretan usaha jewelry milik adiknya, Najla. Najla adalah seorang desainer aksesoris yang punya karya unik, menurut saya. Awalnya saya gak pede, karena belum pernah memotret lifestyle. Tapi Lulu meyakinkan saya, bahwa saya bisa. Saya pikir kenapa gak dicoba. Ternyata memang menyenangkan!

vintage clutch

Seperti biasa bekerja bareng Lulu berarti pemotretan berjalan fun dengan ide-ide unik. Proyek ini saya kerjakan sekitar bulan Desember tahun 2013.

N by Najla Kuwait

Lorenzo Kuwait

Lorenzo Kuwait adalah sebuah resto fine dining Itali pertama di Kuwait. Resto ini terkenal di kalangan orang-orang tua. Karena mereka ingin merambah pasar anak muda juga, direncanakanlah perubahan image besar-besaran. Makanya mereka ingin merubah semua tampilan foto-foto makanan di menu restonya.

caramel pistachioIMG_6435

Awalnya Lulu, anak sang owner (yang sekarang sudah menjadi pengganti ayahnya) mengkontak saya untuk bekerja sama di pastry kitchennya. Lulu meminta saya untuk bersama-sama mengembangkan menu-menu dessert di restonya. Dia tau saya dari instagram dan sudah sering melihat karya-karya cake dekor saya. Saat itu saya tidak menaruh minat. Selain karena saya gak punya background sekolah pastry (apa yang saya lakukan adalah hasil otodidak, semuanya belajar dari google dan youtube), saya juga gak berminat untuk bekerja full time. Kepikiran anak-anak siapa yang ngurusin nanti.

IMG_6372

Selang 2 tahunan kemudian di bulan Juni 2013, Lulu kembali mengkontak saya. Kali ini dia meminta jasa saya sebagai food photographer. Kalo yang ini tentu tak akan saya lewatkan. Karena waktunya fleksibel, bahkan saya boleh membawa anak-anak ikut pemotretan.

Terus terang ini adalah proyek paling berat, paling lama, paling kenyang tapi paling fun dan paling kreatif. Bayangin, tiap abis pemotretan, Lulu selalu bungkusin semua makanan yang di foto buat anak-anak. Lulu yang kebetulan suka styling, banyak membantu saya dan memberikan ide-ide styling yang playful. Di proyek ini, kami bener-bener dituntut berimajinasi. Makanya props yang kami gunakan juga banyak banget. Bukan hanya props saya, tapi juga props Lulu yang bagus-bagus sekali.

Lorenzo

Lorenzo Kuwait meng-hire saya hampir 3 tahun untuk memotret menu-menu di restonya di lokasi-lokasi yang berbeda. Sebuah proyek yang penuh kesan buat saya. Karena akhirnya hubungan fotografer-klien saya dengan Lulu berubah menjadi hubungan pertemanan yang akrab. Sampai akhirnya dia juga meminta saya untuk menggarap proyek foto bisnis aksesoris milik adiknya. Belakangan, sebelum saya meninggalkan Kuwait, dia meminta saya untuk men-training pastry chef-nya tentang basic cake decor. Hahaha orang kayak saya disuruh men-training chef? Gilak apa! Experience di kitchen gak ada. Sekolah pastry nol. Tapi dia memaksa saya, saya pun gak tega menolaknya. Akhirnya di tengah heboh-heboh pindahan, saya mengajar staf-staf kitchennya selama sehari penuh. Dengan syarat, saya minta semua alat disediakan.

Lorenzo Kuwait

More photos here. Tapi sayang ada beberapa foto yang hilang, gak sempat masuk di album ini :(.

8.04.2015

Purple Sun Flowers Kuwait

Purple Sunflowers Q8 IMG_4690

Ini juga proyek motret di saat-saat udah sibuk pindahan, sekitar Mei 2014. Rumah udah berantakan gak karuan, penuh packingan barang. Dan sang pemilik usaha memberi keleluasan pada saya untuk memotret di rumah, daripada saya repot-repot ngangkutin props yang sudah setengah dipacking.

Purple Sunflowers Q8 IMG_5060Purple Sunflowers Q8 IMG_5010

Samantha adalah pemilik Purple Sun Flowers (IG : @purplesunflowers). Kami berkenalan melalui Instagram. Sam begitu saya biasa memanggilnya, adalah wanita ramah dan halus tutur katanya. Awalnya kami hanya melakukan meet up, ngopi-ngopi pagi, yang akhirnya berujung pada ide untuk mengembangkan bisnis susu almond milik Sam. Ia ingin lebih serius menekuni usaha susu almondnya ini. Makanya ia berniat untuk membuat website. Untuk keperluan website ini, dia membutuhkan beberapa foto-foto kemasan susunya. Saya menawarkan diri untuk membantunya. Free of charge. Walopun Sam mati-matian ingin membayar saya, tapi kadang kerjaan motret itu gak selamanya adalah soal uang buat saya. Sebagai teman, hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membantu usaha kecilnya. Saya hanya minta disediakan bahan-bahan membuat susunya, botol-botol susu dan susu-susu produksinya. Jadilah saya menyelesaikan proyek ini di tengah badai pindah-pindahan, di mana rumah udah kayak kapal pecah :D.

Purple Sunflowers Q8

Foto-foto lainnya ada di sini.

Ubon Kuwait

IMG_5990

Nah kalo ini cerita dari bulan Mei 2014, setahun yang lalu, saat kami sudah mulai sibuk pindah-pindahan. Saat itu owner Ubon, sebuah resto Thailand di Kuwait yang mengkontak saya. Klien kali ini juga sangat manis. Gak banyak cingcong, bener-bener menyerahkan sepenuhnya soal styling kepada saya. Dan sangat tepat waktu dalam soal pembayaran. Kerja selesai langsung bayar, gak pake nunda-nunda.

Ubon Kuwait IMG_4816Ubon Kuwait IMG_4870

Karena memang gak mau banyak pake properti dan pihak klien minta style-nya minimalis saja, jadi eksekusinya juga gak macem-macem. Saya hanya banyak main komposisi. Props yang saya sediakan hanya bermacam tea towel saja. 

Ubon Kuwait
Foto-foto Ubon Kuwait, selengkapnya ada di sini.

8.03.2015

Cocoa Room Kuwait

Ini sebenernya cerita lama, yang harusnya udah saya post dari dulu-dulu di blog ini. Motretnya aja udah bulan Maret 2012...hahaha. Karena buat saya ini momen penting banget, yang menandai saya terjun ke dunia food photography profesional. Karena ini adalah pekerjaan profesional pertama kali saya di dunia food photography. Gak tanggung-tanggung di Kuwait pula. Waktu pertama kali dapet tawaran ini, terus terang saya deg-degan. Tapi kalo saya takut-takut kapan dong bisa majunya. Kapan dong tau rasanya bener-bener motret makanan di restoran? Kapan dong tau rasanya dealing sama klien? Kapan dong taunya gimana nentuin fee, per project, per hour?

cocoa roomcocoa room

Jadi dengan modal nekad, saya terima aja kerjaan ini. Kliennya sendiri membebaskan saya untuk berkreasi. Dia hanya menunjukkan foto-foto di buku menu yang sangat terlihat kuno. Kebetulan suasana dan mood resto-nya saya banget. Sedikit temaram, dengan lampu-lampu dan dekorasi yang unik. Jadi pas motret udah langsung dapet feel-nya.

Cocoa Room Kuwait

Foto-foto lengkapnya ada di sini.

Cumi Asin Cabe Hijau

Gara-gara ngomongin cumi asin sama Umi dan Adith, terus jadi kepengenan kan bikin cumi asin cabe ijo! Ngebayanginnya aja udah ngiler. Akhirnya pas kebetulan ke Chinatown, ya udah sekalian nyari cumi asin. Adith bilang sih, ada pasti deh di toko yang jual kering-keringan dan bumbu-bumbu.

Sampai di Chinatown, langsung jajan dulu. Hahaha! Yabis, banyak jajanan banget di sana. Bubble tea, bapau, onde-onde, dimsum, dll. Abis makan-makan baru deh keliling cari cumi asin. Bener aja, ternyata banyak yang jual di toko-toko bahan kering. Tapi bentuk cumi asinnya beda. Gak kayak yang biasa kita beli di Indonesia, yang berbentuk cumi gitu. Yang saya temukan di sini, cumi kering asinnya sudah dibelah menjadi pipih. Sempet ragu-ragu sih mau beli. Tapi ya kalo gak dicoba mana tau kan?


Setelah belanja cumi, seperti biasa mampir toko Asian Market, beli bumbu-bumbu masakan. Abis itu lanjut jajan bapau. Dalam perjalanan ke toko bapau, nemu toko keringan lagi dan kali ini cumi asinnya persis kayak yang di Indo. Di jualnya per pounds. Tapi sayang kan tadi udah beli, nanti aja deh lain kali. Coba yang udah dibeli aja dulu.

Nah, seperti halnya ikan asin, cara masak cumi kering asin juga harus direndem air panas dulu. Pas direndem cuminya jadi mrungkel-mrungkel (duh apa bahasanya yah :D). Cukup 15 menit kemudian tiriskan.

A photo posted by Dita Wistarini (@ditut) on

Cumi Asin Cabe Hijau

Bahan :
Cumi asin
Bawang merah, iris
Bawang putih, iris
Gula merah, sisir
Cabe hijau, iris serong
Bumbu sambal hijau siap pakai
Daun salam
Lengkuas
Daun jeruk
Tomat
Garam secukupnya


Cara membuat :
Goreng kering cumi asin. Sisihkan.

Tumis  bawang merah, bawang putih sampai wangi. Masukkan daun salam, lengkuas dan daun jeruk. Lalu tambahkan gula merah dan sambal hijau. Beri garam secukupnya. Setelah tercampur rata, masukkan cumi asin goreng. Aduk rata. Terakhir tambahkan irisan cabe hijau dan irisan tomat. 

Aduduh enak banget dimakan nasi panas. Tapi saya males juga sih sering-sering, soalnya agak olahraga mulut. Pegel bok. Kemaren di IG ada yang nyaranin diiris tipis-tipis aja. Ok next time dicoba!




7.30.2015

Martabak Telur Roti Paratha

Ini adalah salah satu cara bikin makan martabak telur, tanpa repot-repot bikin kulitnya. Dulu waktu di Kuwait, saya biasa menggunakan kulit saj (kulit pembungkus shawarma). Teksturnya persis sekali dengan tekstur kulit martabak. Sayangnya di NYC, saya belum pernah menemukan kulit saj. Tapi jangan sedih, waktu di Kuwait sebelum tau kulit saj pun, saya selalu bikin martabak telur pakai roti paratha.


Iya roti paratha! Yang biasa dimakan dengan curry itu. Usaha yang perlu kita lakukan, tinggal menggilas tipis dan membuat isi dagingnya. Teksturnya memang sedikit berbeda dengan kulit martabak. Khas kulit pastry, roti paratha lebih flaky.

Sebelum menggilas kulit paratha, siapkan dulu isian dagingnya.

Bahan isian :
Daging cincang
Bawang putih
Garam/merica
Sedikit bubuk curry
Tumis semua bahan-bahan ini jadi satu.


Kemudian siapkan cincangan daun bawang dan telur. Untuk 1 kulit paratha, biasanya saya isi dengan 2 telur, daun bawang sesukanya dan daging cincang 5 sendok makan.

Lalu panaskan pan dengan sedikit minyak. Letakkan kulit paratha yang sudah digilas tipis di tengah pan. Isi dengan campuran telur, daging dan daun bawang. Perhatikan jangan sampai mleber ke pinggir. Kemudian lipat dengan cepat bagian pinggir ke arah tengah. Goreng dengan api sedang saja. Jika kulit sudah berubah warna kecoklatan dan telur di dalamnya sudah matang, angkat. Potong-potong, sajikan.

Resep ini sudah pernah saya post sebelumnya di sini.

A photo posted by Dita Wistarini (@ditut) on

7.26.2015

Pempek

Seperti yang selalu saya bilang di postingan-postingan dulu, saya adalah fans resep pempek NCC. Jadi gak mau pindah ke lain hati. Karena rasanya udah pas, kekenyalannya pun pas buat saya. Walaupun cara bikinnya agak sedikit njelimet tapi hasilnya enyakkk!!

Jadi kemaren itu, teman saya Adith tiba-tiba message saya, bilang pengen pempek. Lah kok ya pas banget, pas saya juga pengen. Secara sehari sebelumnya kayaknya orang seluruh dunia tuh lagi makan pempek. Hahahaha...lebay! Pas banget pas semua bahannya ada. Kemudian cek satu-satu bahan-bahan dari ikan tenggiri, sampe tepung. Ternyata, tepung tapiokanya tinggal sedikit. Manyun deh, gak jadi bikin. Tapi terus bongkar lemari, ternyata punya tepung beras ketan. Trinngggg! Pake aja apa ya? Soalnya dulu pernah bikin apa gitu saya lupa, yang harusnya pake tepung tapioka tapi saya ganti tepung beras ketan, eh jadi juga.

A photo posted by Dita Wistarini (@ditut) on

Ya sudah akhirnya nekad aja pake tambahan tepung beras ketan. Semuanya lancar-lancar saja. Tekstur juga sama setelah direbus. Nah, setelah digoreng baru deh terlihat bedanya. Karena pake tepung beras ketan, jadi ada sedikit wangi tepungnya. Terus setelah dingin kulit pempek jadi keriput. Tapi gak mau protes ah. Bersyukur banget masih bisa makan pempek.

Yang mau resep pempek NCC, ada di sini.

7.21.2015

Bubur Ayam Kampung

Hari ini mati gaya gak tau mau masak apa. Ya karena belum belanja juga. Bahan-bahan masakan di kulkas udah pada habis. Akhirnya bongkar frezeer, oh masih punya ayam. Langsunglah kepikiran bikin bubur ayam kampung.

Saran saya kalo mau bikin bubur nasi, dimulailah dari nasi matang, jangan dari beras. Lama bok...hahaha! Jadi saya masak dulu nasi dengan takaran air lebih banyak dari biasanya, supaya jadi nasi lembek. Setelah itu barulah dimasak di atas api kompor dengan tambahan daun salam, air kaldu ayam dan sedikit santan biar gurih. Beri garam secukupnya.

Jadi pada saat masak nasi di rice cooker, secara bersamaan kita bikin kaldu ayam. Cukup tambahkan bawang putih, daun salam dan sedikit jahe untuk dimasak bersama ayam. Masak dengan api kecil sampai ayam matang dan keluar kaldunya.

Setelah itu bagi 2 kuah. Ayamnya sisihkan. Satu untuk membuat bubur, satu lagi untuk membuat kuah kuning. Saat membuat kuah kuning, ingat-ingat resep membuat kuah soto. Jadi tambahkan ketumbar bubuk, kunyit, lengkuas dan daun jeruk. Kalau mau versi serius, silahkan ulek bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, jahe kemudian tumis bersama lengkuas, daun jeruk dan daun salam lalu masukkan dalam kuah. Tapi buat saya versi cemplang-cemplung lebih mudah dan cepat. See? Saya emang odong-odong banget kalo masak. Enak juga kok :D.

Oiya, ayam yang tadi direbus dan disisihkan, kemudian saya goreng. Lalu setelah dingin disuwir-suwir.

A photo posted by Dita Wistarini (@ditut) on

Cara penyajiannya :
Tuang bubur dalam mangkong. taburi dengan ayam suwir, cheesesticks (kalo ada), kasih potongan cakwe kalo ada. Kalo rajin bikin gih sate ati & ampela :D (bisa dengan rendaman bumbu kuah kuning lalu goreng). Setelah itu siram dengan kuah kuning, taburi dengan kacang kedele goreng (kalo ada hahahah), bawang goreng dan daun bawang.

7.20.2015

(Cooking Adventure) Masuk Dapur itu Menyenangkan

Dulu saya paling males masak atau masuk dapur. Ya mungkin karena masih tinggal sama orangtua, yang apa-apa udah disediain. Tinggal HAP! Begitu menikah dan tinggal sendiri bersama suami, baru deh mulai masuk dapur. Apalagi setelah punya anak. Prosesnya bener-bener learning by doing. Buat saya, bergabung dengan milis cooking dan baking itu sangat membantu. Setelah bergabung dengan milis NCC di tahun 2006, bersamaan dengan itu pula blog ini lahir. Blog yang awalnya bernama Last Bite kemudian berganti menjadi Yummy Corner. Di milis NCC saya ditempa. Banyak teman-teman yang sudah senior dalam dunia perdapuran, yang dengan baik hati mau sharing resep, tips dan trik memasak/baking. Hasilnya kemudian difoto dan dimasukkan blog. Dari sini pulalah akhirnya saya jatuh cinta pada dunia food photography (mungkin nanti saya akan bikin postingan tersendiri tentang awal mula terjun ke dunia food photography). Setelah NCC, kemudian ada KBB atau Klub Berani Baking. Klub yang dimotori Arfi Binsted ini, menempa kami jadi baker rumahan yang handal. Kenapa saya bilang handal, karena dalam klub yang gak sembarang orang bisa masuk ini, kita dituntut untuk punya komitmen tinggi menyelesaikan tantangan-tantangan baking yang buat kami tidak mudah. Dulu boro-boro bikin puff pastry sendiri. Atau pernah gak bikin croquembouce? Bisa gak dulu bikin spun sugar? Bikin macaron sendiri sampe 11x yang butuh kesabaran. Atau Japanese roll cake yang pake motif-motif itu...huwaaaa!!! Ya kalo gak dipaksa di KBB, gak mungkin pernah bisa dan tahu. Dan yang paling penting, ilmunya!! Jadi tahu rahasia-rahasia baking, jadi tahu tips dan trik baking, jadi tahu cara-cara ngakalin kalo ketemu masalah.



Happy banget rasanya bisa ikutan klub ini. Foto-foto di atas adalah beberapa tantangan yang sudah berhasil diselesaikan selama ikutan KBB. Dari yang tadinya cuman pake hand mixer terus memutuskan beli mixer pro...hahahaha semuanya gara-gara KBB. Tapi sayang, dengan bertambahnya kesibukan saya dulu, mengurus bakery di Kuwait, akhirnya saya memutuskan keluar Daripada malu-maluin gak bisa komit. Kinda miss those old days!

Selain baking, masak buat saya juga adalah satu kegiatan yang therapeutic. Memotong-motong daun bawang, memblender daging ikan, dsb, membawa relaksasi sendiri buat saya. Walaupun masaknya ribet macam masak lontong sayur, yang musti nyiapin lontongnya, bikin sayur labunya, terus nyiapin sayur nangkanya. Tapi saya selalu menikmati prosesnya. Jago masak? Nggak. Karena terus terang cara memasak saya sering ala-ala koboi. Cemplung-cemplungin bahan, mengira-ngira rasa (makanya sekali lagi saya bilang, resep2 di blog ini sering tidak memakai takaran), kadang step dan tehniknya pun jauh dari tehnik memasak sebenernya. Yang harusnya diulek, saya pake blender/food processor. Yang harusnya pake bahan fresh, saya pake bumbu bubuk. Lalu kalo mau pake bumbu jadi, andalan saya sih MUNIK yah. Beberapa bumbunya juara loh. Macam Kuah Bakso, Rendang dan Soto Betawi. Kuah Bakso-nya asli kayak kuah bakso abang-abang, loh. Biasanya tinggal saya tambahin beberapa bahan-bahan masak kalo dirasa masih kurang pas.


Gak pernah ambisius dan fanatik menggunakan bahan dan merk tertentu dalam memasak. Sejak merantau (dan punya anak), saya banyak belajar menurunkan segala macam ekspektasi, termasuk memasak. Please deh ngurus anak dan ngurus rumah itu sendiri sudah memakan waktu dan menghabiskan energi. Jadi apapun yang bisa dibuat simple, mari dibikin simple. Kalo gak ada bumbu merk tertentu, ya sudah pake bumbu yang ada. Kalo gak ada bahan tertentu, tinggal googling cari substitusinya. Seperti misalnya dulu susah mencari kemiri, tinggal disubstitusi dengan kacang mete. Atau kemangi diganti basil. Rasa jadi gak terlalu mirip, tapi tetap bisa jadi masakan yang lezat. Begitu pula cara memasak. Seperti saya bilang saya gak fanatik dengan cara tertentu. Bumbu ulek konon katanya lebih enak. Iya kalo punya banyak waktu, atau kalo bayi gak oek-oek, atau pas lagi ngulek ada yang minta cebok. Bok! Sutralah ya! Pake blender, chopper atau food processor sangat mempermudah kerja saya. Rasanya beda? Nggak, sepertinya ini tergantung yang masak juga kok. Don't sweat the small things. Udah bagus bisa makan ketoprak di rantau. Udah bagus bisa bikin sayur asem ikan asin sambel terasi di rantau. Bersyukur dengan apa yang ada. Memaksimalkan apa yang ada aja. Kalo nggak, pusing pala Barbie.

Kegiatan memasak (baking belum karena peralatan baking masih banyak di dalam cargo yang otw dari Kuwait ke NYC), akhirnya jadi salah satu cara saya juga untuk ngumpulin teman-teman sejak di NYC. Ada kesenangan tersendiri bisa ngumpulin teman-teman di rumah untuk menikmati masakan saya. Happy tummy, happy face, ngobrol, ketawa-ketawa, makan dan makan lagi. Senang rasanya kalo semua bisa menikmatinya.


Ngomong-ngomong soal masak-masakkan di NYC. Saya gak pernah nyangka, mo cari bahan masakan apa aja ada di sini. Perbandingan saya adalah Kuwait, yang cari apa-apa susah. Bahan-bahan  Indo carinya gak mudah. Tapi belakangan sepertinya sudah banyak teman Indo yang berbisnis bahan pangan Indo, jadi saat ini relatif mudah dicari. Tapi New York? WOWWWW!!! Sampe kerupuk aci aja ada! Gak perlu ngerasa takut gak bisa masak ini itu. Cumi asin? Ada! Ikan asin? Ada banget! Terasi? Ada. Daun salam? Ada juga. Buat saya ini sih udah cukup lengkap yah. Yang belum nemu sih daun kunyit aja, karena daun ini gak ada substitusinya, penting kalo mau bikin masakan Padang.


Toko-toko untuk mencari bahan-bahan masakan Indo, bisa ditemukan di Elmhurst Queens (toko TOPLINE) atau bisa juga di Indo Java (kalo naik subway bisa turun di stasiun GrandNewtown Avenue). Atau bisa juga dicari di Chinatown Manhattan, yang bersebelahan dengan Little Italy. Saya biasa belanja di toko Asian Market yang terletak di Mulberry Street. Nah kalo ke Chinatown ini bisa sambil jajan enak. Beli Bapao, makan mie ayam, jajan cemilan, beli onde-onde, beli egg tart, dll. Ini juga mungkin nanti bisa saya bikin postingannya tersendiri.....kalo gak males....hahahahaha!

Jadi kembali lagi soal masak. Memasak dan masuk dapur itu menyenangkan kok, asal gak dijadiin beban harus bikin masakan enak. Nikmatin aja prosesnya. Dan yang pasti semakin banyak latihan, bakal semakin fasih di dapur. Semuanya itu soal trial dan error kok. Happy cooking and baking!


7.14.2015

Bakwan Malang

A photo posted by Dita Wistarini (@ditut) on

Nah ini bikin Bakwan Malang dalam rangka malam takbiran. Orang sih lebaran bikin Opor Ayam. Hahahaha iyaaa sengaja bikin yang ringan, biar teman-teman gak eneg makan yang santen-santen besoknya. Karena 2 minggu sebelumnya pun pas ngundang teman-teman makan di rumah, menunya udah berat, Sop Buntut Panggang :D.

Persiapan bikin bakwan malang udah saya lakukan dari 2 hari sebelum ngundang teman-teman makan. Kuncinya masak banyak adalah masalah manajemen waktu. Kalo bisa dicicil, cicillah segera. Kayak bikin bakwan malang ini, isiannya (somay kukus, bakwan goreng dan tahu isi kukus) udah bisa disiap-siapin dari 2 hari sebelumnya, kemudian masuk freezer. Kemudian 1 hari menjelang hari H tinggal bikin kuahnya. Kuahnya ini memang lebih baik menginap semalam, supaya esok harinya bumbunya udah bener-bener meresap. Hari H-nya tinggal merebus mie dan memanaskan semua isian.

Bakwan Malang
Bahan Kuah :
Kalau mau ringkes saya rekomendasikan MUNIK Kuah Bakso
Kalau mau bikin sendiri, ini bahan-bahannya :
Tulang sapi
Tetelan daging sapi
Bawang putih
Bawang Bombay
Daun Bawang
Bawang Goreng
Garam/Gula/Merica secukupnya

Cara membuat kuahnya :
Didihkan air dalam panci, masukkan bawang putih (kalo saya suka masukkin banyak bawang putih. Saat air sudah mendidih masukkan tulangan dan daging tetelan. Saya ingat, dulu pernah dikasihtau, kalau mau bikin kaldu daging, biarkan air mendidih dulu. Supaya nanti kuahnya gak bau daging, terutama berlaku untuk daging kambing atau domba. Supaya bau daging kambingnya tidak menyengat.

Kemudian masak dengan api kecil. Ini penting, supaya kaldu keluar perlahan dan kuah tidak jadi butek atau kotor. Saat daging sudah empuk, masukkan daun bawang utuh, bawang bombay utuh, bawang goreng dan bumbu-bumbu sesuai selera. Saya suka menambahkan sayuran saat membuat kaldu, supaya rasa kaldunya bercampur dengan kaldu sayuran dan terasa sedap. Jika sudah mendidih, masukkan bakso. Tunggu sebentar kemudian matikan api.

A photo posted by Dita Wistarini (@ditut) on

Isian Bakwan Malang
Ada apa aja? Ada Somay/bakwan kukus, ada bakwan goreng, tahu isi ikan kukus dan bakso. Kebetulan di sini ada yang jual bakso enak, jadi saya tak perlu repot bikin bakso sendiri.
Bahan-bahan Isian :
Kulit wonton atau bisa juga kulit lumpia. Tapi nanti akan menghasilkan tekstur yang beda. Kulit lumpia cenderung lebih liat.
Ikan tenggiri
Tepung Tapioka
Daun Bawang, cincang
Bawang Putih,
Garam/Merica seceukupnya.

Cara membuat :
Haluskan ikan tenggiri, boleh loh dicampur daging ayam atau udang, dengan perbandingan 2:1. Beri sedikit air supaya mudah tercampur. Menghaluskan ikan tenggiri bisa dengan garpu saja karena dagingnya lembut, atau gunakan food processor.

Cincang halus bawang putih dan daun bawang. Masukkan ke dalam ikan yang sudah dihaluskan. Beri  garam dan merica.

Kemudian masukkan tepung tapioka sedikit demi sedikit ke dalam campuran ikan. Tidak perlu sampai kalis dan tidak lengket lagi. Karena kalau kebanyakan tepung tapioka, nanti bukannya kenyal tapi jadi liat. Hati-hati juga kalau terlalu sedikit tepung tapioka, nanti jadi lembek dan tidak kenyal. Hahahaha gimana neranginnya yah, nanti kalau udah praktek pasti tahu konsistensinya.

Setelah itu siapkan kulit wonton dan tahu. Masukkan isian ikan tadi ke dalam kulit wonton dan tahu. Kalau udah selesai bisa dikukus. Tunggu dingin kalau mau simpan di kulkas. Sisihkan sebagian kulit wonton isi untuk digoreng. Jadi tak perlu dikukus.

Nah kalo udah beres semua, tinggal diracik. Siapin mangkok, isi dengan mie, bakwan kukus, bakwan goreng dan tahu kukus. Siram dengan kuah bakso, taburi daun bawang, daun seledri dan bawang goreng. Siap disantap.

Nah, kalau masih ada sisa yang tidak habis, bisa banget dimanfaatin jadi somay dan batagor. Tinggal siapin deh saus kacangnya.

A photo posted by Dita Wistarini (@ditut) on







7.06.2015

Mie Ayam Jamur Bakso Pangsit

Saya merasa beruntung banget, tinggal di NYC itu bahan-bahan pangan Indonesia mudah dicari. Resto Indo pun banyak, kalo pas lagi males masak. Mie ayam ini comfort food banget. Hahahahh liat judulnya kumplit banget yah. Nah enaknya memasak sendiri itu ya gini, apa-apa bisa dilebihin. Ayamnya bisa dibanyakin, mau pangsit goreng yang banyak juga suka-suka aja.


Bahan-bahan :
Mie telur, diseduh
Pok choy, dipotong-potong, diseduh
Daun bawang, diiris halus
Bawang goreng
Minyak ayam (kulit ayam ditumis dengan bawang putih saja)
Kuah mie ayam



A photo posted by Dita Wistarini (@ditut) on


Bahan Kuah mie ayam :
Tulang ayam/ceker ayam (untuk mie ayam saya lebih suka menggunakan kaldu ayam)
Bawang putih
Garam/merica secukupnya
Bakso
Rebus semua sampai mendidih
Simple banget kan kuahnya. Sebenernya yang menentukan itu justru di resep topping ayamnya.

Bahan tumisan topping ayam :
Daging ayam, dipotong kotak 1/2 cm
Jamur merang, dipotong tipis
Kecap manis
Kecap asin
Kunyit
Daun jeruk
Garam/merica
Gula pasir
Sedikit air
Minyak goreng untuk menumis
Jahe
Bawang merah dan bawang putih haluskan

Cara membuat :
Tumisan: panaskan minyak. Tumis bumbu halus sampai harum. Tambahkan daging ayam. Aduk sampai berubah warna. Masukkan jamur. Aduk rata.

Bumbui kecap manis, kecap kecap asin, jahe, kunyit, daun jeruk garam, gula, dan merica. Aduk rata. Tambahkan air, aduk sampai matang dan mengental.

Masukkan mie yang sudah diseduh ke dalam mangkuk. Tambahkan minyak ayam, aduk rata.

Sendokkan tumisan ayam, pok choy, dan daun bawang. 

Siram dengan kuah yang panas. Taburkan bawang goreng. 

Untuk pangsit gorengnya, tinggal goreng saja kulit wonton. Jadi deh!!