8.21.2008

Komposisi dan Styling

Mumpung lagi gak males nulis dan lagi mood, lanjutin ya seri "Sharing Food Photography"nya ;).

Waktu Nia dan Re nanya soal komposisi dan styling, gue agak bingung menjawab. Kenapa? Karena sebenernya gak ada jawaban yang pasti untuk semua ini *tsaahhh gayanya bahasa gue*. Banyak buku tentang food styling. Ujung-ujungnya akan kembali ke soal selera dan subyektif sifatnya. Learning by doing dan belajar serta mengamati karya orang lain, menurut gue jauh lebih penting. Gak ada soal benar salah di sini. Gue cuman akan share beberapa hal yang perlu diperhatikan aja soal komposisi dan styling.

A. Mood/Tema
Gimana caranya ndapetin ide? Tentukan dulu mood yg ingin didapatkan. Misalnya : ceria, klasik, busy day, playful, summer, winter, romantic, natural, colorful, christmas, lebaran, lazy day, kegiatan selesai masak, kegiatan preparasi masak/baking, elegan, simple, minimalis, dsb, banyaklah pastinya. Ini akan sangat mempermudah kita dalam pemilihan properti pedukung dan menentukan ambiance yang ingin ditampilkan.


Ide dari foto ini, adalah gue ingin menampilkan sesuatu yang playful dan girly, melihat bentuk cookies yang seperti button, menimbulkan ide untuk membuatnya seperti bros atau jepit rambut. Maka gue memilih elemen pendukung berupa pita, kalung dan bros dengan nuansa pink.


Sementara di foto ini, gue ini menggambarkan kehangatan musim dingin melalui segelas hot chocolate (hehehe....padahal di sini lagi summer puanas puooll!). Properti pendukung, gue cari yang ada relasinya dengan kegiatan musim dingin, misalnya merajut. Item lainnya adalah penggunaan chopping board kayu untuk memperkuat kesan hangat, dengan aksen lipatan tissue hijau.

B. Elemen pendukung/properti
Kalo udah nemu moodnya, pikirkan elemen pendukungnya. Dalam hal ini properti. Sesuaikan dengan mood atau tema yang kita pilih dan jenis makanan yang akan difoto. Pikirkan relasi antara makanan dan elemen pendukung. Misalnya : telur rebus relasinya dengan apa? Breakfast misalnya. Ok, kita siapin secangkir teh panas, roti, botol garam dan merica. Pokoknya apa yang bisa direlasikan dengan sebutir telur rebus.

Contoh :

Waktu akan menentukan konsep foto ini, gue mencari relasinya COOKIES itu apa? Salah satu yang muncul di benak gue adalah COOKIES related ke anak-anak. Apa yang berkaitan dengan anak-anak? Boneka, mainan, kotak mainan, dll. Akhirnya gue memilih beberapa boneka mini anak gue dan kotak mainan mereka, diberi aksen te towel hijau.


Di foto ini, Vania menggunakan relasi MUFFIN dengan susu dan breakfast. Dengan kreatif beliau mencoba menggunakan botol susu siap minum sebagai elemen penunjang.

Tips :
1. Paling aman memang memilih peralatan makan warna netral, seperti putih. Kalo punya budget lebih silahkan hunting piring-piring, sendok garpu dan gelas berwarna.


image courtesy of Vania

Contoh penggunaan piring dan alat makan berwarna putih yang tetap terlihat cantik :


Untuk memberikan aksen pada penggunaan warna putih, Elsye memilih taplak meja kuning dan meletakkan tomat di sisi kiri atas. Warna merah tomat dan kuning dari taplak membuat foto ini menjadi hidup.


Aksen pita ungu dipilih Arfi untuk memecahkan kekakuan dari dinginnya meringue putih, piring putih dan background putih.


Mindy mencoba menata piring putih beraneka bentuk supaya tidak monoton.


Permainan gelas putih yang dilakukan Vania ini terlihat cantik. Elemen gantungan teh yang berwarna-warni memberikan aksen pada polosnya putih. Penataan dengan kuping gelas mengarah kepada teko di belakag/background adalah pilihan yang jenius. Menunjukkan darimana teh-teh ini dituang.

2. Chopping board kayu kalo buat gue wajib dimiliki. Chopping board ini selalu terlihat cantik dalam banyak mood/tema. Item ini merupakan dewa penolong buat gue.

Liat deh foto-foto cantik dengan elemen chopping board, cantik kan?


Image courtesy of (searah jarum jam dari kiri ke kanan) : Sylvie Gill, Elsye Suranto, Vania, Dita, Arfi Binsted, Dita

3. Warna-warna background (bisa berupa kain, bisa berupa kertas/karton) yang wajib dimiliki : putih dan warna-warna pastel, coklat, hitam, abu-abu. Warna-warna netral cocok untuk semua jenis makanan, sementara warna pastel yang ceria cocok untuk cookies, ice cream dan cake (tapi inget juga, mood yang ingin didapatkan apa). Feel free untuk bereksperimen. Mix n match mana yang cocok. Gue pernah bereksperimen tabrak motif seperti ini :


image courtesy of Dita

Kunci dari permainan tabrak motif adalah : gunakan warna-warna dengan tone yang sama. Pada foto di atas, gue bermain dengan warna hitam putih. Piring yang gue pilih adalah piring hitam dengan polkadot putih, piring putih dengan aksen hitam dan loyang berwarna hitam polos. Warna merah gue gunakan untuk memberikan aksen dan membuat foto lebih hidup.

4. Miliki beberapa item bernuansa etnik.


image courtesy of Vania

5. Properti bernuansa kayu juga sering digunakan. Paling nggak, mangkok, sendok dan garpu kayu.


image courtesy of (kiri ke kanan) : Dita, Rita Bellnad, Mindy Jordan

6. Aksen tanaman atau bunga bisa membuat suasana menjadi hangat, menimbulkan kesan cantik dan memecahkan suasana kaku dan dingin.



image courtesy of (kiri ke kanan) : Rita Bellnad, Elsye Suranto, Dwiana, Arfi Binsted

7. Miliki beberapa serbet atau tea towel dalam warna netral.

Ini beberapa koleksi tea towel gue yang jumlahnya gak genap :D, rata-rata cuman ada 1 piece.

image courtesy of Dita

C. Styling
Setelah itu, pikirkan styling makanannya. Yang agak tricky kalo kita berurusan sama hasil cooking. Sayur yang tadinya tampak segar, begitu diolah bisa jadi keliatan layu, warnanya pudar dan tampak gak menarik.

Tips :
1. Ambil foto makanan fresh dari oven atau begitu selesai dimasak. Apalagi masakan (gue paling males soalnya rada ribet musti ekstra fokus dan ekstra treatment), jangan tunggu sampai berjam-jam kemudian. Penampakan fresh yang menggugah selera besar kemungkinan didapat setelah selesai dimasak.



image courtesy of (searah jarum jam, kiri ke kanan) : Arfi Binsted, Eliza, Eliza, Dita

2. Untuk foto makanan sejenis capcay atau model-model stir fry, begitu setengah matang, warnanya masih segar dan belum layu, sisihkan semangkuk untuk dijadikan obyek foto. Sebelum difoto, olesi sayuran dengan minyak goreng supaya terlihat mengkilat.



image courtesy of (searah jarum jam, kiri ke kanan) : Dita, Elsye Suranto, Dita, Dita

3. Jika memotret masakan berkuah jangan biarkan kuah memenuhi mangkuk sampe-sampe makanan keliatan becek kelelep kuah, gak menggugah selera. Usahakan kuah hanya setengah mangkuk dan isinya bisa terlihat. Maksudnya kalo menata opor ayam ya ayamnya keliatan, kalo menyajikan sayur asem ya sayurannya keliatan dst.


image courtesy of Mindy Jordan

4. Jaga kebersihan. Perhatikan apakah ada cipratan masakan yang tidak diinginkan dan bisa merusak suasana. Hal ini boleh diabaikan kalo memang mood dan temanya messy. Atau memang "noda" atau "cela" tidak berdiri sendiri di tengah-tengah setting rapi ala tante Martha Stewart. Terkadang serbet yang terlipat seenaknya, sendok yang berantakan, alas kertas yang kusut, saus yang tumpah, botol merica yang terguling bisa memberikan kesan homey dan natural. Balik lagi ke mood/tema yang ingin ditampilkan kan?

contoh foto-foto dengan mood messy :


image courtesy of (searah jarum jam dari kiri ke kanan) : Dita, Dita, Dita, Arfi Binsted, Sheila, Dita

Ada coklat yang berantakan, botol yang terguling, potongan delima, lelehan adonan, gigitan kue, kertas yang lecek, dll.

Coba mampir ke sini, untuk melihat jenis-jenis foto messy yang progresif, bold dan berani.

5. Sedia lap untuk membersihkan tangan di area foto. Kadang kita asik-asik atur-atur makanan, tangan colak colek sana sini trus megang kamera.....hiyaaaa....akhirnya minyak dan remah-remah makanan nempel di kamera. Kalo gue pribadi, suka males bawa lap, akhirnya baju jadi korban.....kakakakakkkk.... Jangan ditiru ya, jorok!

D. Komposisi
Okeh *narik nafas panjang*, sampailah kita di tahapan yang agak sedikit membuat berkeringat :D. KOMPOSISI. Yup, tata letak yang membuat sebuah foto jadi enak dilihat. Terus terang gue puyeng dan capek baca-baca teori komposisi seperti spiral perspective, "a" perspective, dll. Kalo ada yang punya bukunya Lou Manna "Digital Food Photography", teori-teori kayak gini ada di situ. Buat gue pribadi, kuncinya sederhana : KESEIMBANGAN. Teori-teori itu cuman sekedar wawasan aja.

Tips :
1. Meletakkan properti dan menata meja adalah sebuah seni tersendiri. Keseimbangan maksudnya dalam meletakkan elemen-elemen pendukung tidak menjadikan sebuah foto terlihat terlalu berat di satu sisi. Misalnya terlalu berat di bawah, terlalu penuh di samping, terlalu riweuh di atas, dst. Dalam food photography ada istilah repeat. Repeat mengacu pada obyek yang bisa menyeimbangkan obyek lainnya. Obyeknya tidak harus selalu sama dengan obyek yang direpeat. Contohnya :


Foto hasil jepretan Rita Bellnad ini repeatnya jelas sekali. Mangkuk berisi kering tempe di kanan bawah di repeat dengan mangkuk berisi piring tempe juga di kiri atas. Lalu sendok kayu di repeat dengan vas berisi bunga. Seimbang kan?


Foto hasil jepretan gue ini me-repeat gelas putih dengan koran. Piring gak perlu di repeat karena letaknya sudah seimbang di tengah.


Di foto gue ini, piring berisi ayam di depan yang tidak center di repeat dengan keberadaan botol susu di kiri atas. Kemudian jeruk utuh di kanan belakang di repeat dengan potongan jeruk di depan supaya komposisi jadi seimbang. Coba kalo potongan jeruk di depan itu di buang, pasti jadi gak seimbang.


Di foto milik Rita Bellnad ini, garpu di repeat dengan gelas di belakang. See, repeat gak selalu harus dengan benda yang sama, kan?

Kalo ini contoh foto yang rada gak enak dilihat karena kurang seimbang, ada yang tau gak seimbangnya di mana?


Di foto gue ini ada satu bidang kosong di pojok kiri bawah. Sebaiknya pojok kosong itu gue isi dengan cookies untuk me-repeat tutup toples dan gelas di kanan belakang. Foto ini terlalu berat di sisi kanan.

2. Yang perlu diperhatikan juga adalah permainan grafikal atau ilusi grafikal yang membuat foto jadi seimbang. Permainan grafikal bisa didapat dari peletakan obyek makanan seperti ini :


Untuk menyeimbangkan foto gue ini yang cenderung berat ke kanan (gimana gak berat....ada tissue dengan motif circular, ada mangkok berisi sajian dan ada sendok. Semuanya cenderung di kanan), gue meletakkan lemon di pojok kanan belakang dan mengarahkan sendok ke arah kiri belakang.


Irma memanfaatkan motif garis-garis pada taplak biru untuk mengarahkan obyeknya. Gelas puding dan sendok ditata mengarah ke kiri atas. Lihat arah gelasnya kan dengan dengan kuping gelas berada di posisi bawah, seolah gelas mengarah ke atas? Untuk mengisi bidang kosong, Irma meletakkan sendok di kanan atas.


Sheila menata piring-piringnya membentuk garis lurus ke arah belakang.


Sementara gue, mencoba bermain dengan garis diagonal dan permainan elemen lingkaran dari kertas tissue, muffin disusun sejajar mengikuti garis-garis alasnya.

Atau peletakan properti pendukung, seperti arah sendok, garpu, sumpit, kuping gelas, serbet, dsb. Contohnya :


Sumpit sengaja gue tata untuk mengarahkan perhatian orang terus ke belakang, ke arah makanan di belakang. Jadi mata orang gak lari saat ngeliat foto ini


Sendok dan piring ditata Rita Bellnad membentuk pattern segitiga dengan repeat yang sama di obyek belakang.


Peletakan sendok, memperkuat foto puding ini ke arah kanan. Tapi Elsye berhasil menyeimbangkannya dengan meletakkan bunga di pojok kiri atas, sehingga foto gak jadi berat ke kanan.

3. Foto cantik tanpa elemen pendukung macam-macam pun bisa saja didapat dengan tetap memperhatikan efek yang menerbitkan air liur dan PERMAINAN CAHAYA. Ini contoh obyek individual tanpa permainan props macem-macem. Tetap menggugan selera kan? :



Kiri ke kanan :
Riana Ambarsari, Elsye Suranto,
Dita,
Eliza, Dita
Elsye Suranto

4. Extreme close up untuk food photography sebaiknya jangan terlalu sering digunakan. Gak keliatan ambiance dan mood yang ingin dibangun soalnya. Dan kalo buat gue sih, fotonya jadi gak berbicara banyak/bercerita. Terlalu close up sampe bentuk aslinya gak keliatan.

Sounds complicated??? Memang gak sesederhana yang dibayangkan kan. Tapi kalo udah terbiasa, semua akan otomatis dan mengalir dengan sendirinya kok....by feeling aja. Gue juga gitu kok kadang udah main feeling aja. Keep practicing dan rajin ngliatin karya orang aja.

Terus, apakah foto yang bagus selalu dihasilkan dari segala tetek bengek ini? Nggak kok. Minimalis juga bisa jadi bermakna. Hanya dengan sebuah background putih dan properti sederhana. Semuanya tergantung dari tujuan yang ingin kita capai. Kuncinya ada di permainan cahaya dan penataan makanan yang artistik. Foto-foto model begini bagus untuk keperluan packaging, daftar menu resto dan buku resep karena yang utama di sini adalah fokus ke makanannya. Atau kalo kita mau jualan foto ke stock agencies, biasanya mereka seneng dengan foto-foto background putih supaya mudah di edit.


image courtesy of Dita

ini contoh product shot :

image courtesy of (kiri ke kanan) : Sylvie Gill, Regina Budiardjo

Sampe sini dulu ya. Nanti malah makin luas pembahasannya, karena bakal nyangkut-nyangkut juga di urusan trend dalam food photography, penggunaan DoF untuk menonjolkan obyek, dst. Jadi yang ini sampe sini dulu aja ya. Pelan-pelan aja belajarnya.

Seperti yang udah gue bilang di atas bahwa urusan ini subyektif sifatnya (lebih asyik learning by doing, mlototin cooking book/majalah-majalah cooking dan memperhatikan karya orang lain), maka gue banyak menggunakan contoh karya-karya cantik milik temen-temen gue yang berbakat.

Thanks to my talented friends : Arfi Binsted, Dwiana, Vania, Eliza, Riana Ambarsari, Regina Budiardjo, Sheila, Irma, Elsye Suranto, Mindy Jordan, Rita Bellnad, Sylvie Gill atas kemurahan hati dan ijinnya sehingga gue bisa menggunakan karya-karya hebat mereka dalam tulisan ini.

Sharing Food Photography lainnya :
1. Memaksimalkan Fungsi Kamera Saku Digital
2. Resep Mengenal ISO
3. How Do I Shoot My Foodie Pics?
4. Mengenal Depth of Field

19 comments:

  1. aduh pas bacanya gue jadi mikir: selama ini gue mah motret gak pake aturan yg elo tulis Dit, gue motret pake feeling :))
    itu kali ya makanya foto gue acak adut *LOL*

    thanks sharingnya

    ReplyDelete
  2. Salut Dit, elo bisa nulis tulisan ini dgn uraian yg lengkap. Pastinya ini bakal bermanfaat buat yang pengen belajar fotografi.
    Gue sama kayak Sefa, selama ini motret berdasarkan feeling aja. Gue malah baru tau kalo komposisi itu ada teorinya :D. Asli deh, gue ini buta banget sama teori fotografi.

    Kalo gue, sebelom gue motret sesuatu, gue udah punya ide/ konsepnya. Kalo enggak, hasil fotonya bakal ancur. Makanya gue jarang moto, soalnya idenya keseringan buntu :D.

    ReplyDelete
  3. happy deh gw dapet ilmu styling gini yg dikasih banyak contohnya :D thanks a lot banget banget.

    gw pas ngejepret udah dilihat kanan kiri atas bawah, tapi dasar taste artistiknya baal... susah deh. kadang mpe pengen nangis bombay saking frustasinya. ntar pas gw ngefoto lagi, ni primbon gw bawa serta, dijadiin cek list. :D di flickr yg dikelompoknya TK (thornsten) jg suka ada rangkuman foto by example, lumayan jg tuh buat ndapetin ide.

    tapi kadang mesti dilihat jg sih, kalo fotonya buat dipajang di majalah atau buat advertisment, fotonya gak bisa full isi, mesti ada area kosongnya buat taruh text.

    ok deh... thanks for sharing ya...

    ReplyDelete
  4. gue baru tau tuh ada repeat. dasar gak pernah buka buku, jadi gak buta, apa2 dicoba2 aja semua. tapi ada untungnya dulu sekolah design, jadi ada yg nempel di otak Dit :D thanks for sharing, pasti cape deh nulis segini banyak & tata foto2nya, kayak lagi round-up aja.

    ReplyDelete
  5. kalo dipikir2 sih teori itu sudah ada di kepala tapi waktu menghadapi media shooting teori kadang2 broken hehehe untuk komposisi aku selalu ingat rule of thirds. gile mak, lengkap amat tulisannye. good job ye mak ye! hidup ditaaaaaaaaa!!

    ReplyDelete
  6. Thank you Dit atas pembahasannya.
    Bermanfaat banget buat org2 kayag gw, taking picture by feeling, composition by feeling, styling by feeling...
    Moga2 gw bisa lebih baek ngedandanin masakan2 gw :D
    Ditunggu lanjutannya (ngelunjak.com)
    sedikit cerita dibalik layar
    *foto muffin & botol susu di atas.
    Motret di tempat tidur, lagi ujan gede di luar. Background softboard (yg biasa gw jadiin reflector) di lapisin selimut gw (warna biru muda). Straw hitam ngembat dari cafe. Awalnya susunya penuh, tapi gw haus saat motret... jadi diminum dikit2 :D.
    * Foto cangkir putih berisi teh.
    Sambil foto, sambil minum segelas kopi (bukan teh). Lokasi sama, diatas tempat tidur.

    ReplyDelete
  7. Poooolllllll!!!!! Di Bombardirrrr infonyaaa!!(Plok keplok keplok) Hebat Mak!! Gw jadi ada panduan en contekan nih buat berani ber-eksperimen foto dengan props..Walopuuunnn props-nya belom ada!:P hehe.. Thanx udah mo capek2 mengulas dengan detail yah :)

    ReplyDelete
  8. Appreciate postingnya Dit, jadi nambah ilmu food photography gue yang pake formula trial dan banyak error-nya plus gak puguh itu.

    ReplyDelete
  9. Ditaaaaa.... kereeeen.... emang gak bisa diem deh ibu yg satu ini. say, daq link artikel ini di mpku boleh tak...?

    ReplyDelete
  10. TFS....kerennn bangettt...berguna bangeett

    ReplyDelete
  11. makasih banyak buat sharingnya mas, sangat bermanfaat.Semoga dapet ilmu yg lebih lagi

    ReplyDelete
  12. Thanks for sharing, terutama buat aku yang baru belajar motret, kadang pas mau ngatur komposisi bingung...koq aku nggak bisa nyeni, kadang berkesan kaku gitu.

    ReplyDelete
  13. Fenny4:09 PM

    waah thanks a lot ya, dita!!
    komplit banget ngebahasnya, selama ini saya motret lebih fokus ke makanannya aja.. baru tau maksud sendok & bunga2 itu tujuannya utk apa! :D

    ReplyDelete
  14. Anonymous8:28 PM

    halo,

    makasih banget buat tipsnya! gue baru mau mulai food blogging, tapi belum apa-apa udah stres karena ga bisa moto dan sok perfeksionis :D tips-tipsnya membantu banget, semuanya masuk akal, nanti pasti gue praktekkin...

    ngomong2 resep biji salaknya mau gue coba besok....cheers! :)

    annisa

    ReplyDelete
  15. Anonymous7:29 PM

    Terima kasih infonya!! sangat berguna sekali buat saya yang sedang menekuni food photography. Ini pertama kali saya buka blognya Ibu Dita dan saya mendapatkan banyak ilmu.

    Saya masih belajar tentang western food, apakah sudah pernah dibahas sblmnya di blog ini?? Jika blm mungkin Ibu Dita bs membagikan pengetahuannya. Terima Kasih!!


    Benny

    ReplyDelete
  16. bunbun10:47 PM

    maaf, mau ikutan nanya.. kalo mau ikut food photography nya gimana caranya ya? :)

    ReplyDelete
  17. Anonymous11:20 AM

    wah,,,,dapet inspirasi ne bwt moto menu diwarung,,salam kenal dari bali,,sari

    ReplyDelete
  18. mbaa ditaaa (hehe boleh panggil gitu? jd sok kenal hehe) terima kasih sekali atas semua lessonnya ttg photography. akhirnya aku berani beli kamera dslr setelah baca pernak pernik postnya mba! again, thank you!

    ReplyDelete
  19. Wah, bener2 berguna tulisan ini.
    Yang mau saya tanyakan, adalah dimanakah tempat yang menjual tea twel / serbet itu? saya bingung cari dimana... :(

    ReplyDelete

thanks for dropping by :)