7.08.2008

Foodie Photography Contest : Red & White

Image Hosted by ImageShack.us

My talented and fabulous friends, Dhi, Fitri and Dwi is collaborating to make this wonderful event.

COME and JOIN this fun to celebrate 17 August, Indonesian Independence Day!


In the spirit of celebrating the Independence Day, the freedom in every aspect of life hopefully, they would like to see the creative spirit within YOU. If you have a talent in cooking or baking, food styling or food photography, show it to them, flaunt it. Even if you don’t think you have a talent, just send it anyway. They would like to see it!

And the Winner will win fun prize!

The theme is “Red and White” but it may be stretched as far as you can think of. Anything red and white, visual or concept wise, taste wise… anything. Be creative as much as you can. There’re some cool door prizes waiting. Remember, winning isn’t everything, but having fun is. So let’s have fun and let that creativity spilling over.

More info, please do visit here, here or here :).

Happy Clicking!!

Reminder : Home Food Photography # 3 : 'Studio'



Panggilan! Panggilan!! Ayo ayo yang belum nyetor, kesempatan untuk berpartisipasi di event ini masih dibuka sampe tanggal 20 Juli 2008. Ayo tunjukkan studio odong-odongmu alias spot/area favorit yang biasa dijadiin tempat motret makanan, jangan malu-malu :P.

Silahkan klik di sini untuk info lebih lanjut.

Ditunggu yaks!

7.07.2008

Resep Mengenal ISO

Lia gurun (as requested gue tulis nama panggung lo tuh. Puas??!!) bertanya : apa fungsi angka-angka 80,100,200,400 dst pada kamera (digital)?

Maksudnya udah pasti angka-angka ISO. Good question, Li! Hal sederhana tapi sering diabaikan. Apalagi kalo di kameranya ada settingan Auto, pasti udah terlena dengan keotomatisan tersebut. Cari gampang, ISO diset AUTO aja. Akhirnya dapet hasil foto yang kurang memuaskan. Mari gue coba jelasin dengan segala keterbatasan gue dan dalam konteks food photography *lah ini sebenernya food blog apa tempat kursus foto seh?*.

Apa sih ISO?
Jaman dulu mungkin sering denger ASA? Ada ASA 100, 200, 400 bahkan 800. Ya 11-12 lah sama ISO. Well, ISO di sini mengacu pada sensitivitas film (pada kamera digital, image sensor, selanjutnya akan gue sebut image sensor karena kita berbicara dalam ruang lingkup digital) terhadap cahaya. Sebelum beranjak lebih jauh, gue cuman mau ingetin, ada 3 hal penting yang berpengaruh pada eksposur : aperture, shutter speed (kecepatan) dan ISO. See, ISO gak boleh disepelein.

Woo woo woooo, kompleks amat, ada aperture, ada kecepatan, ada ISO??? Tenang, mari kita urai pelan-pelan. Gue coba fokusin ke urusan ISO, walopun gak mungkin rasanya ngoceh soal ISO tanpa nyrempet-nyrempet urusan aperture dan shutter speed *senggol dikit gak papa lah ya*.

Angka-angka ISO menunjukkan seberapa sensitif image sensor terhadap cahaya, semakin kecil angka, misal 100, image sensor kurang sensitif (kurang bukan berarti tidak) terhadap cahaya. Sebaliknya, semakin besar angka, misal 1600, semakin sensitif image sensor terhadap cahaya.

Apa sih maksudnya sensitif di sini? Kurang sensitif atau sensitivitas rendah maksudnya image sensor harus terekspos dengan cahaya lebih banyak. Itulah sebabnya jika memotret di tempat kurang cahaya let's say dipojokan kamar yang jendelanya ketutup lemari trus motretnya di kolong meja....huekekekekkk, kita butuh ISO tinggi. Nah, settingan ISO tinggi ini akan menolong image sensor dalam menangkap cahaya sebanyak-banyaknya.

Foto ini gue ambil di lorong apartemen tanpa ada lampu yang menyala, gue menggunakan ISO 1600 supaya image sensor dapat menangkap banyak cahaya. Image rada blur karena gue agak goyang :P.



Nah, kalo yang ini pake ISO 100, see kecepatannya jadi rendah, gue gak pake tripod :P, makanya jadi goyang dombret.




Sebaliknya, jika kita memotret obyek di tempat terang benderang silau milau, gunakan ISO rendah. Karena image sensor udah kebanjiran cahaya maka gak perlu lagi ISO di set menjadi sensitif (baca: pake ISO tinggi), cukup yang kadar sensinya rendah aja, 100 misalnya.


note : gunakan ISO rendah untuk tempat terang seperti ini (diambil jam 12 siang dengan direct light),
kalo nekad juga pake ISO tinggi, hasilnya akan seperti ini



Apa yang terjadi kalo kita motret di tempat gelap dengan ISO rendah? Jawabnya bisa gelap, bisa terang. Loh??
1. Gelap : ISO rendah dengan angka aperture besar (misal f/16) atau ISO rendah dengan kecepatan tinggi (misal 1/200). Penjelasannya gini, udah ISOnya rendah means gak sensi sama cahaya, pake angka aperture besar atau kecepatan tinggi yang sama-sama gak maksimal nangkep cahaya, ya hasilnya bakal gelap.


note : prioritas pada Speed, Aperture menyesuaikan

2. Terang : ISO rendah dengan angka aperture kecil (misal f/2.8) atau ISO rendah dengan kecepatan rendah. Resikonya kita harus menggunakan tripod supaya gak goyang dombret. Penjelasannya : ok kita pake ISO rendah means kurang sensi sama cahaya trus keukeuh supaya hasil pengen terang, ya bisa aja dikompensasi di angka aperture-nya ato utak-atik speednya. Set ke angka aperture kecil misal f/1.8 atau pake speed lambat supaya image sensor punya kesempatan untuk menangkap cahaya sebanyak-banyaknya dan menghasilkan gambar yang cukup cahaya. Silahkan gunakan cara ini untuk mendapatkan mood tertentu pada foto tapi inget sedia tripod.


note : prioritas pada Aperture, Shutter speed menyesuaikan

Trus kalo kita motret di tempat terang benderang pake ISO tinggi gimana? Jawabnya bisa terang (normal) dan terang buanget bikin silau.
1. Terang/normal : ISO tinggi dengan angka aperture besar atau ISO tinggi dengan kecepatan tinggi.


note : prioritas pada settingan Aperture, Shutter speed menyesuaikan

2. Terang banget atau burned out : ISO tinggi dengan angka aperture kecil atau ISO tinggi dengan speed lambat. Penjelasan : ISO tinggi means sensi cahaya, trus pake angka aperture kecil yang punya kesempatan menangkap cahaya lebih banyak, atau pake kecepatan rendah yang membuka pintu selebar-lebarnya untuk cahaya masuk. Bayangin semua ngasih angin buat cahaya, alhasil foto kebakaran alias terang banget alias burned out.


note : prioritas pada settingan Aperture, Shutter speed menyesuaikan

Puyeng amat sih?! Makanya pelan-pelan kita kenalin dulu si ISO ini. Coba gunakan ISO pada tempat dan porsinya. Khusus untuk food photography gak bakal susah kok. Obyeknya still gak moving. Kita udah taulah medannya, bagaimana kondisi cahayanya, udah ketebaklah. Jadi gunakan ISO yang pas. Lagipula ini kamera digital gitu loh. Utak atik deh ISOnya untuk tau perbedaan eksposur atau hasil fotonya. Gak bakal mejen kayak kalo pake kamera analog, musti nyuci film dan nyetak fotonya :P. Gue sendiri, untuk motret makanan dengan kondisi di area pinggir jendela, tidak direct light, sering menggunakan settingan ISO 200-400. Kalo pake 200 seringkali musti dibantu tripod biar gak goyang.


Spot favorit di pinggir jendela

Lah kan sebenernya bisa aja gue pake ISO 800 atau 1600? Yup benul!! Tapi ada tapinya nih! ISO juga berhubungan dengan kualitas image. Better quality akan didapat dengan penggunaan ISO rendah. Pernah denger NOISE? Bintik-bintik kecil sewarna, biasanya pada sebuah area gelap pada sebuah image. NOISE akan muncul pada penggunaan ISO tinggi. Dan pada saat image di blow up akan terlihat pecah. Untuk beberapa kepentingan sih, NOISE emang sengaja dicari untuk keperluan artistik, tapi buat gue pribadi, mending melakukan itu di post processing/editing.

Coba perhatiin foto ini (image ini sudah diperbesar), di area yang gelap banyak terlihat bintik-bintik kecil atau NOISE, karena diambil menggunakan ISO 1600



Untuk food photography saran gue gunakan/prioritaskan pada ISO-ISO rendah. Coba main-main dengan aperture atau shutter speed untuk mendapatkan eksposur yang maksimal.

Jangan cuman mengandalkan AUTO. Settingan ISO AUTO sering diprioritaskan ke ISO tinggi. Misal tempat gelap sedikit padahal gak gelap gelap amat, otomatis ISO nge-set ke tinggi. Dan tiba-tiba foto jadi NOISE semua.

Trus buat apa dong ISO tinggi? Pernah nonton konser atau pertunjukkan terus kita gak boleh pake flash supaya gak mengganggu jalannya pagelaran? Ato di museum yang sering gak boleh pake flash ato di ruangan yang kurang cahaya tapi gak mungkin pake flash karena kita harus ndapetin moodnya? Nah, di sini ISO tinggi berperan. Atau ya untuk keperluan artistik dari sebuah image yang butuh penampakan NOISE.

Teori gak bakal nyangkut kalo gak dipraktekkin. Coba eksperimen dengan berbagai settingan ISO, aperture dan shutter speed untuk lebih kenal performa kerja kameramu dan hasil yang diinginkan. Seperti yang sudah gue sebutin di atas, ISO, Aperture dan Shutter Speed adalah 3 hal yang saling mendukung untuk mendapatkan sebuah eksposur yang maksimal. Thanks to kamera digital yang memungkinkan lo merubah-rubah ISO untuk foto yang berbeda. Sekarang latihan dulu menggunakan ISO yang tepat, nanti setelah itu pelan-pelan dikombinasikan dengan penggunaan Aperture atau Shutter Speed yang pas :).

Mudah-mudahan penjelasan seadanya ini bisa dimengerti dan gak bikin bingung ya. Pokoknya dah nangkep kan garis besarnya ;). Good luck! Ditunggu hasil eksperimennya.

Sekedar gambaran penggunaan ISO yang berbeda-beda di area yang sama (lorong apartemen tanpa lampu) denga settingan diprioritaskan pada Shutter Speed (1/100).

1. ISO 100


2. ISO 200


3. ISO 400


4. ISO 800


5. ISO 1600




7.06.2008

Parmesan Tuna Muffin

Tuna Parmesan Muffin

I just saw these photo sets in my flickr and remembered that I haven't posted the recipe yet. And it's been almost 2 months ;) *dear Pati, maybe you're the one who's gonna smile, you've received the recipe, right?*.

Too many photos and too little time for blogging. Sometimes I got too excited taking so many food pics and spent most of my time for photo editing or flickring. The other time, with my girls, we were busy with our art and craft project.

Crafting : paper
Paint the bead Leia learns how to paint

And some other times I was so into stitching, and then I forgot about blogging :D. Until I realize there were so many foodie photos on my flickr queueing to be blogged.

Home Decor Project : Bird 2

Many friends asked me how did I manage my time between parenting, baking, cooking, blogging, food photography, crafting, etc. I'm not a super mommy. When I do something, I always take my time. Otherwise never do everything such in a rush and always low my expectation. I don't need to do everything perfectly because it would be impossible. With the girls around, my hands is full and somehow I always try to put them in my first priority and involved them in my activity *Yea right! Parenting kicked my butt big-time ;)*.

Leia : It's easy! Look!

I just want to take my life easy and be happy everytime ;).

Sketching together

Anyway, my lovely foodie blogger buddy, Mindy, posted this recipe around May. She used the recipe from Rita's.

I was interested, because I've never had savory muffins before. Those looked so tasty! I adapted her recipe and with a little re-worked, I made my Parmesan Tuna Muffin.

The original calls for curry powder but since I didn't have one, I used parmessan cheese. These muffins supposed to be tasty but they turned out salty because I put too much salt. I forgot that I used parmessan cheese which already salty :P.

Tuna Parmesan Muffin

Just try these savory muffins for another experience! Maybe you'll be quite surprised in the first bite ;). Pretty strange yet delectable.

Here's the original recipe.

Curry Tuna Muffin
from : Mindy's Deli

Ingredients:
1 can tuna in water - drained
2 cloves garlic - finely chopped
1 onion - finely chopped
1 cup self raising flour - sifted
3 tbsp curry powder (dita-I used Parmesan)
Parsley - chopped
Salt
Granulated sugar
1 egg - beaten
1/3 cup coconut milk (dita-I used milk)
1/4 cup canola oil

Topping (dita-I sprinkled the muffins with Parmesan)
Tuna mixture
Chili flakes

Directions:
Preheat the oven to 175°C. Grease muffin tin
Sauté chopped garlic and onion until fragrant. Add salt, curry powder (dita-Parmesan) and tuna chunks. Combine well. Set aside.
Combine sifted flour, salt and sugar. Make a well in the middle.
In another bowl, combine beaten egg, coconut milk (dita-Milk) and oil. Pour the mixture into a well. Stir well
Add chopped parsley and the tuna mixture. Left some for topping. Combine well.
Pour the mixture into a greased muffin tin until 3/4 full. Bake muffins 25 minutes or until set. 10 minutes before the muffins are set, put the topping on each muffin. Served warm.


7.03.2008

Loukoumades

Loukoumades

It began when Mindy posted an easy donut recipe, someone has mentioned about loukoumades. What's that? I've never heard before. And then I asked mr.google to find a clue. Let me summarized fo you :) Pronounced : loo-koo-MAH-thes. Kind of greek style doughnuts, some people call them greek honey tokens or greek honey fritters. During the third century B.C. they were the first prizes awarded to the winners of the ancient olympic.

So, I asked Mindy whether she wanted to make loukoumades and she accepted my offer. We had a deal to post the result on Thursday (July, 3). Want to join the fun with us? ;) Just find any recipes for loukoumades, make them and post them in your blog as well. Don't forget to let us know your url link to the post. No deadline. Simply for fun!

Finding a recipe for loukoumades was not an easy task. I've found dozen recipes and I was pretty sure no two were alike. There were recipes with egg, recipes without. Recipes that called for milk and recipes didn't mentioned anything about milk. Recipes with nutmeg and recipes without. My head started to spin, didn't know where's the original one.

Finally....because I love nutmeg, I went with this recipe which called for nutmeg. I didn't know how did they supposed to look like. But mine were crisp outside and spongy inside.

loukoumades

Soaked with honey, dusted with cinnamon and sprinkled with walnut made these puffy balls a perfect dessert. But better served warm.

Loukoumades

Loukoumades

Ingredients :
2 1/4 ounces active dry yeast (1 packet)
1 tablespoon sugar
2 cups warm water (105-115º) -- divided
1 egg
3 cups all-purpose flour
1/4 teaspoon salt
1/8 teaspoon ground nutmeg
1 teaspoon vanilla extract
Vegetable oil for frying

SYRUP:
1 cup honey
1 tablespoon fresh lemon juice
1 teaspoon grated lemon zest

TOPPINGS:
Ground cinnamon to taste
1/4 cup chopped walnuts

Directions :
In a mixing bowl,mix the yeast and sugar into 1/2 cup of the warm water. When the mixture turns foamy (about 5 minutes), stir in the remaining 1-1/2 cups warm water with the egg, flour salt, nutmeg and vanilla. Mix until the batter is thick but smooth. Cover with plastic wrap and set in a warm spot to rise for about an hour. (don't stir again or it will deflate.) The result should be a bubbly batter.

Loukoumades 1 Loukoumades 1

In a deep fryer or a large heavy pot, heat four inches of oil to 375º F. making sure there are at least 2 inches between the oil surface and the top of the pot. This should take about 20 minutes.

While the oil is heating, prepare the syrup by combining the ingredients in a small bowl or a 2-cup measuring cup.

Working in batches, slide dollops of the batter (about the size of a heaping tablespoonful each) into the hot oil at a time, making sure not to crowd the pan. The dollops will puff up and float to the top. Turn the puffs occasionally with a slotted spoon until they are a deep golden brown on all sides and very crisp, about 2-4 minutes total. Remove carefully and drain on paper towels or brown paper bags.

Dust the puffs generously with cinnamon, drizzle with the honey-lemon syrup. and sprinkle with walnuts.

Tips : Have a cup of cold water into which you can wet a tablespoon and also the fingers of your hand each time. Wet the spoon so that the dough will not stick on it, take a spoon of the dough and using your hand or another spoon, push it down into the hot oil (take care not to burn yourself).

7.01.2008

Butterhorn Garlic Knots

Butterhorn Garlic Knots

When I read Helen's post about butterhorn garlic knots, I could almost smell and practically taste them. I was tempted to make them by myself. Anything goes with garlic and butter is surely yum yum!

Hell yeahhh I didn't think twice, jumped up to my kitchen and made them. Just like Helen did, I added rosemary and basil to make these knots especially fragrant. Because I love garlic, I used a lot ;). These knots supposed to have a moist texture, because they got brushed before, during and after and all that butter soaking in the rolls. But mine are a little bit too dry, maybe because I used whole wheat flour instead of bread flour (????anyone?could you please tell me why?). *gotcha! Just got another reason to make these again! ;)* But next time I would bake the garlic mixture inside the dough and brushed the garlic butter over after I bake the knots not before baking. See, the burnt chopped garlic has made the knots didn't look pretty. Ya..ya...I know, that's just a matter of good presentation, the rest were great :).

I had some soup to go with these. And the kids eat these tasty knots as a snack beetwen meals.

Potato Soup

I just couldn't wait for my second time around. Thanks Helen, for sharing the recipe. They were so addictive ;). And you know what, I was having so much fun when shaping the dough into the knots.

Butterhorn Garlic Knots

Butterhorn Garlic Knots
source : originally from Bon Appetit, reworked by Helen
Makes 18

Ingredients :
1/2 cup whole milk
6 Tb unsalted butter cut into pieces
1/4 cup warm water
1/2 tsp plus 1Tb sugar, divided
1 Tb dry instant yeast
1 large egg, room temp
3 to 3 1/2 cups, AP flour (dita-I used whole wheat flour)
1 tsp salt
1/2 Tbsp melted butter
1/3 cup unsalted butter, melted
3 cloves garlic, minced finely

Directions :
In heavy medium sized sauce pan over low heat, heat milk and 6 Tb of butter until the butter is melted. Do not let it boil. Let cool to 115F degrees. Combine warm water, 1/2 tsp sugar, and yeast in small bowl and let stand for 5 minutes (this is for flavor not to proof yeast, unless you are using active yeast in which case you are proofing and getting flavor)
In large bowl of stand mixer using the whisk attachment, beat egg and remaining sugar at low speed until blended. Beat in milk mixture. Gradually add 2 cups of flour, 1/2 cup at a time until blended smooth. Replace the whisk with dough hook. Add yeast mixture, salt, and 1 cup of flour (1/2 cup at a time), beat at medium low speed. You will have a very wet and loose dough that climbs the dough hook but falls back down the bowl by this time. One Tb at a time, add enough remaining flour to form a firm but sticky dough ball. The dough balls will pull away from the sides of the bowl and not flop back to the sides.

Pour 1/2 Tbsp melted butter in large bowl that can be fitted with a lid or that plastic wrap clings to well. On very lightly flour covered counter and with lightly floured hands, give dough 3 - 5 quick hand kneads to form good dough ball and then put in buttered bowl, turning dough over to coat with butter. Cover bowl with lid or plastic wrap and let rise in a warm, draft free place until doubled, about 1 1/2 hours. Punch down dough, fold dough over in half and then half again, and brush with melted butter. Cover bowl again and let rise again in same warm draft free place until doubled (about 1 hour).
From here follow the directions for making the knots as shown on the KA website. Just don't tuck the ends in to get the shape you want.
Cover and let rise until double, brush with melted butter and garlic and bake in 350F preheated oven for 15 -20 minutes.

6.30.2008

Potato Soup



I know I know this is not so summery dish ;), but I was so craving for soup, especially thick soup. And I'd love to bring this soup to Monthly Foodie Multipliers # 16 : Soup hosted by Vin. Vin, here's my potluck!

Potato Soup

Here's the original recipe. I used potato instead of butternut squash. Didn't make the Gruyere Croutons but I ate the soup with Buterhorn Garlic Knots (recipe will be blogged soon). This recipe calls for cumin, you know I'm not a big fans of cumin. Sometimes, its smell disturbed my appetite, but this......ooohhhh...how I love the smoky flavor of the cumin in it!

Potato Soup

Butternut Squash Soup with Gruyere Croutons
source : Alyson originally adapted from Bon Appetite

Ingredients :
1/4 cup (1/2 stick) butter
1 large onion, finely chopped
4 large garlic cloves, chopped
4 1/2 cups chicken broth
3 lbs butternut squash, peeled and cut into 1 inch pieces
1 1/4 tsp minced fresh thyme
1 1/4 tsp minced fresh sage
2 tsp ground cumin
1 tsp ground ginger
1/8 cup whipping cream

Directions :
• melt butter in large pot over medium heat. add onion and garlic and saute until tender, about 10 minutes.
• add broth, squash and herbs; bring to boil.
• reduce heat, cover and simmer until squash is very tender, about 30 minutes.
• working in batches, puree soup in blender. return soup to same pot.
• stir in cream; bring to simmer. season with salt and pepper.

can be made 1 day ahead. chill. rewarm over medium heat before serving.

for crouton
Ingredients :
4 cups cubed bread slices
1 cup grated Gruyere cheese
1 tsp minced fresh thyme
1 tsp minced fresh sage
2 tbsp olive oil

Directions :
• preheat broiler.
• arrange bread cubes on baking sheet.
• drizzle olive oil over top of cubes. toss with hands.
• sprinkle cheese, then thyme and sage over bread cubes.
• broil until golden, about 1 minute. re-arrange cubes and broil for about 1 minute more.

• ladle soup into bowls and top with croutons. grate an additional amount of cheese on top if desired.

Memaksimalkan Fungsi Kamera Saku Digital

Nikon Coolpix P 1

Anjriittt....judulnya serius banget!!......wakakakakkkk!!! Ini sebenernya requestnya Ipoet yang minta tuntunan penggunaan kamera-nya dan beberapa teman yang secara pribadi melayangkan e-mail ke gue, meragukan kemampuan kamera saku/pocket digitalnya yang gak bisa bikin foto bagus. Halah Poet, gue ini sebenernya gak PD memberimu tuntunan, karena gue sendiri adalah orang yang paling males membuka manual book dan culun banget sama yang namanya teori photography. *Sapa sih gue ini?* Maksudnya Ipoet mungkin, gimana ya memaksimalkan kamera saku digital gue? *gitu kan Poet?*

Aku masih inget, jaman dulu kalo si Babe bawel nerangin ini itu tentang teori-teori photography dan pengenalan kamera, kayaknya Babe ngomong berbusa-busa, guenya masuk kuping kiri keluar kuping kanan *ya iyalah! abis yang diterangin juga anak baru kelas 3 SD*. Tapi Babe gak pernah putus asa, dia emang obsesi banget anak-anaknya ada yang punya kemampuan photography seperti dia. Tapi dasar guenya yang bolor kali ye, sering gak nyimaknya. Cuman makin ke sini makin kusadari, kayaknya apa yang dulu-dulu sering diomongin Babe itu nempel di alam bawah sadar gue......hahahahha.....segitu didoktrinnya gue!! Malahan sekarang kalo ngomongin soal photography sama Babe dan adikku, gue jadi lebih nyambung karena ilmu-ilmunya beliau yang tertanam di benak gue.

Okeh, sekarang ke soal kameranya Ipoet. Gue akan coba bantu dan nggambarinnya gak ribet-ribet pake istilah photography advance (pake istilah awam aja ya). Mudah-mudahan bisa dimengerti dan ini based pengalaman gue loh, jadi kalo ada temen lain yang punya pengalaman berbeda silahkan ditambahkan di kolom comment di bawah, biar kita bisa saling menambahkan. Yang akan gue share di sini adalah hal yang basic banget tapi penting diketahui. Sorry juga buat yang lain kalo postingan ini terlalu spesifik ke Nikon, karena memang untuk kamera digital pocket, merk ini yang gue gunakan. Gue sendiri memakai Nikon Coolpix P1 keluaran tahun 2005 dengan resolusi 8 MP. Cukup lama gue menggunakan kamera ini untuk membuat foto-foto makanan, sebelum akhirnya gue menggunakan kamera DSLR keluaran Canon. Bahkan sampe sekarang, kadang gue masih memakai kamera ini untuk food photography.

Menurut Ipoet kamera yang digunakan adalah Nikon Coolpix 7600. Setelah mencoba membaca spesifikasi dan review produknya (silahkan baca spesifikasinya di sini) dan membandingkannya dengan P1 gue (silahkan baca spesifikasi Nikon Coolpix P1 di sini), setidaknya gue ada sedikit gambaran mengenai "senjata" yang kamu pakai.

Hampir sama memang, tapi ada beberapa fitur yang gak dimiliki oleh 7600. Untuk food photography ada 2 setting kuncian yang biasa gue pakai :

A. Fitur Aperture Priority yang biasanya ditandai dengan "A" di roda menu kadang ada juga yang menggunakan "AV" atau Aperture Value. Seperti halnya P1, 7600 juga punya aperture range yang hampir sama. P1 : 2.7-5.2, sedangkan 7600 : 2.8-4.8. Sayangnya 7600 gak punya fitur "A" ini, Poet. Padahal mode ini enak dikutak-katik untuk food photography. Jadi alasan utama menggunakan mode Aperture Priority adalah untuk mengkontrol Depth of Field (DOF) atau gampangnya area fokus dari sebuah objek *begitu bukan yak bahasa Indonesianya?*. Dalam food photography, ini penting karena fokus berada di objek makanan, terkadang background perlu dibuat out of focus supaya tidak mengganggu penampilan si bintang utama :). Tapi bukan berarti setiap food photo harus punya backgound blur loh. Gak selalu. Terkadang juga kita perlu menampilkan ambience dan mood dari makanan tersebut. Maka dari itu, dengan menggunakan mode ini supaya kita bisa mengatur ketajaman backgroundnya tergantung kebutuhan dan selera.

Aperture itu sendiri apa sih? Aperture adalah diameter bukaan lensa. Semakin besar diameter bukaan berarti semakin banyak pula cahaya yang masuk. Aperture biasa ditunjukkan sebagai f-stop, misalnya nih : f/2.8 atau F 2.8. Semakin kecil angka f-stop misalnya f/2.8, semakin besar diameter bukaan lensa dan area ketajaman jarak tangkap terhadap objek semakin sempit (makanya backgroundnya bisa jadi blur), demikian pula sebaliknya, semakin besar angkanya misalnya 8 akan semakin kecil bukaan lensa dan area ketajaman semakin luas.


Image coutesy of Photoxels

Cara men-set up Aperture Priority pada Nikon Coolpix P1 :
1. Pilih ikon "A" pada roda menu

Nikon

2. Kemudian pilih ikon "+/-" untuk mengatur setting aperture. Tekan ke kiri untuk angka f-stop lebih kecil dan ke kanan untuk angka yang lebih besar.

Nikon

Nikon

3. Lalu tekan ikon bergambar bunga, OK dan pilih ikon bunga lagi di dalamnya.

Nikon

B. Kalo gak ada fitur "A", kita bisa gunakan fitur lainnya, yaitu "SCENE".

Cara men-set up menu "SCENE" :
1. Pilih ikon "SCENE" pada roda menu.

Nikon

2. Kemudian tekan tombol "MENU"

Nikon

3. Kemudian biasanya gue pilih setting Close Up yang ditandai dengan ikon bunga. Lalu tekan OK. Nanti akan ada pilihan "NORMAL", "EFFECT 1" dan "EFFECT 2". Pilih aja yang "NORMAL", nanti kalo mau eksperimen silahkan pilih-pilih yang lain :).

Nikon Coolpix P 1

Jangan lupa :
1. Sesuaikan ISOnya. Walopun ada pilihan Auto, gue lebih suka diset sesuai kebutuhan.
2. Utak-atik menu WB atau White Balance, gue lebih sering menggunakan pilihan AUTO. Mungkin nanti kamu akan menemui hasil foto terlalu merah atau terlalu kuning atau malah cenderung biru, coba WBnya di set ulang :
1. Pilih ikon "WB" dari roda menu.

Nikon

2. Kemudian pilih "PRE" White Balance Preset.

Nikon

3. Arahkan/fokuskan kamera pada selembar kertas putih di ruangan/tempat di mana obyek foto berada. Dan kamera bisa digunakan kembali.

Mudah-mudahan sampe sini cukup komunikatif dan mudah dimengerti ya.

Ini beberapa contoh foto yang gue ambil dengan Nikon Coolpix P 1 :

Mango Sorbet Pecel
Lontong Paris Feeling Romantic Cuppies

Kalo setting sudah ok, ada beberapa hal lagi yang penting diperhatikan (ini bisa dipelajari sambil jalan) :
1. Berhubung ini kamera saku, gak ada external flash juga kan? Lighting adalah satu hal yang sangat penting diperhatikan. Tentunya sumber cahaya yang oke dan murah meriah adalah cahaya natural. Pilih spot foto yang cukup mendapatkan cahaya. Sebisa mungkin hindari direct light (karena jatuhnya cahaya ke objek akan terlalu keras dan hasilnya akan kurang bagus). Pilih tepat di pinggir jendela (seperti yang sering gue lakukan) atau kalo ada teras ya di teras.

Behind The Scene : Banana Chocolate Chips Cookies

2. Komposisi. Semakin sering kita berlatih, semakin luwes kita menentukan komposisi (halah, gue aja masih sering mati gaya nyari kompo yang enak). Gue bukan penganut pakem rule of thirds (more about it here). Capek mikirin yang kayak gitu-gitu, mending eksperimen komposisi sebebas-bebasnya. Saran gue gabung deh sama klub-klub food photography yang sekarang berhamburan di FLICKR. Semakin banyak melihat karya orang, kita juga semakin banyak belajar, bisa bertukar pikiran pula dengan pakar-pakarnya, GRATIS!! :D
3. Sejalan dengan praktek yang sering dilakukan dan mlototin karya food photography orang, kita juga akan bisa membaca trend-trend komposisi yang sedang berlaku sekarang. Trend frame-frame miring sepertinya sudah ditinggalkan dalam food photography. Yang sekarang sedang in adalah trend-trend yang minimalis (dari segi properti dan tabletop setting), berkesan airy atau ringan, dengan cahaya yang soft atau malah memanfaatkan backlight dan angle bird's eye view alias mengambil gambar 180˚ dari tampak atas.

Ini contoh pengambilan secara bird's eye view :

Tuna Parmesan MuffinSLW : EggsGerman Apple Cake

Ini contoh foto memanfaatkan backlight (gak direct sih, tapi memanfaatkan sinar dari belakang dengan angle pengambilan agak serong):

Spicy Mango SaladIce Minty TeaBanana Pistachio Biscotti

Nah, ini loh contoh foto miring yang sekarang dah 'basi' :P (foto ini juga diambil menggunakan Nikon Coolpix P1 ) :



4. Food styling. Plototin deh majalah-majalah cuisine, gourmet, kuliner atau apalah namanya yang berhubungan dengan foto-foto makanan. Googling around di internet juga banyak. Sekarang banyak food stylist yang punya blog atau website. Bisa jadi sumber inspirasi yang besar nih. Food styling adalah elemen penting untuk menggugah selera orang. Tujuan food photography adalah menghasilkan foto yang apik dengan unsur membuat mulut mouth watering alias ngiler pengen makan :D.
Main deh ke blognya Jaden, Beatrice dan Sabra. Amati karya-karya food photography mereka (Jaden dan Bea adalah food journalist). Kalo mungkin berteman dengan mereka, mereka gak pelit berbagi ilmu :). Dan masih banyak lagi teman-teman foodie blogger di luar sana yang sangat berbakat dan dengan senang hati mau berbagi ilmu dengan kita-kita.
5. Sedia reflektor sebelum kekurangan cahaya :P. Bikin aja sendiri dari cardboard kemudian dibungkus aluminium foil, sudah sangat membantu mengisi cahaya di tempat-tempat yang butuh cahaya. Buat gue, reflektor adalah must have item.

See my reflector? ;)

Behind the Scene : Asisten

Yang penting, kenali dulu deh kamera sakunya. Utak-atik eksperimen hasilnya ancur gak papa, justru dari situ kita bisa belajar. Jadi tau salahnya di mana, gak enaknya di mana, dll. Gue gak percaya kamera digital pocket (minimal 5 megapixel-lah)gak bisa bikin karya bagus. Kameramu itu bisa banget tuh Poet "diperkosa" untuk bikin foto-foto apik ;).

Sorry kalo ada yang kurang, gue tuh gak bakat deh jadi dosen ato guru yang pinter nerangin, dan gue pun masih terus belajar, ini sedikit yang bisa gue bagi ke teman-teman. Kalo ada pertanyaan lanjutan, yuk kita diskusikan di kolom "COMMENT" :).

Happy exploring your digital pocket camera! Sorry kalo penjelasannya terkesan asal goblek :P, moga-moga bisa membantu.

Related Link :
Kamera Saku Gak Bisa Bikin Foto Bagus? by Arfi