8.21.2008

Komposisi dan Styling

Mumpung lagi gak males nulis dan lagi mood, lanjutin ya seri "Sharing Food Photography"nya ;).

Waktu Nia dan Re nanya soal komposisi dan styling, gue agak bingung menjawab. Kenapa? Karena sebenernya gak ada jawaban yang pasti untuk semua ini *tsaahhh gayanya bahasa gue*. Banyak buku tentang food styling. Ujung-ujungnya akan kembali ke soal selera dan subyektif sifatnya. Learning by doing dan belajar serta mengamati karya orang lain, menurut gue jauh lebih penting. Gak ada soal benar salah di sini. Gue cuman akan share beberapa hal yang perlu diperhatikan aja soal komposisi dan styling.

A. Mood/Tema
Gimana caranya ndapetin ide? Tentukan dulu mood yg ingin didapatkan. Misalnya : ceria, klasik, busy day, playful, summer, winter, romantic, natural, colorful, christmas, lebaran, lazy day, kegiatan selesai masak, kegiatan preparasi masak/baking, elegan, simple, minimalis, dsb, banyaklah pastinya. Ini akan sangat mempermudah kita dalam pemilihan properti pedukung dan menentukan ambiance yang ingin ditampilkan.


Ide dari foto ini, adalah gue ingin menampilkan sesuatu yang playful dan girly, melihat bentuk cookies yang seperti button, menimbulkan ide untuk membuatnya seperti bros atau jepit rambut. Maka gue memilih elemen pendukung berupa pita, kalung dan bros dengan nuansa pink.


Sementara di foto ini, gue ini menggambarkan kehangatan musim dingin melalui segelas hot chocolate (hehehe....padahal di sini lagi summer puanas puooll!). Properti pendukung, gue cari yang ada relasinya dengan kegiatan musim dingin, misalnya merajut. Item lainnya adalah penggunaan chopping board kayu untuk memperkuat kesan hangat, dengan aksen lipatan tissue hijau.

B. Elemen pendukung/properti
Kalo udah nemu moodnya, pikirkan elemen pendukungnya. Dalam hal ini properti. Sesuaikan dengan mood atau tema yang kita pilih dan jenis makanan yang akan difoto. Pikirkan relasi antara makanan dan elemen pendukung. Misalnya : telur rebus relasinya dengan apa? Breakfast misalnya. Ok, kita siapin secangkir teh panas, roti, botol garam dan merica. Pokoknya apa yang bisa direlasikan dengan sebutir telur rebus.

Contoh :

Waktu akan menentukan konsep foto ini, gue mencari relasinya COOKIES itu apa? Salah satu yang muncul di benak gue adalah COOKIES related ke anak-anak. Apa yang berkaitan dengan anak-anak? Boneka, mainan, kotak mainan, dll. Akhirnya gue memilih beberapa boneka mini anak gue dan kotak mainan mereka, diberi aksen te towel hijau.


Di foto ini, Vania menggunakan relasi MUFFIN dengan susu dan breakfast. Dengan kreatif beliau mencoba menggunakan botol susu siap minum sebagai elemen penunjang.

Tips :
1. Paling aman memang memilih peralatan makan warna netral, seperti putih. Kalo punya budget lebih silahkan hunting piring-piring, sendok garpu dan gelas berwarna.


image courtesy of Vania

Contoh penggunaan piring dan alat makan berwarna putih yang tetap terlihat cantik :


Untuk memberikan aksen pada penggunaan warna putih, Elsye memilih taplak meja kuning dan meletakkan tomat di sisi kiri atas. Warna merah tomat dan kuning dari taplak membuat foto ini menjadi hidup.


Aksen pita ungu dipilih Arfi untuk memecahkan kekakuan dari dinginnya meringue putih, piring putih dan background putih.


Mindy mencoba menata piring putih beraneka bentuk supaya tidak monoton.


Permainan gelas putih yang dilakukan Vania ini terlihat cantik. Elemen gantungan teh yang berwarna-warni memberikan aksen pada polosnya putih. Penataan dengan kuping gelas mengarah kepada teko di belakag/background adalah pilihan yang jenius. Menunjukkan darimana teh-teh ini dituang.

2. Chopping board kayu kalo buat gue wajib dimiliki. Chopping board ini selalu terlihat cantik dalam banyak mood/tema. Item ini merupakan dewa penolong buat gue.

Liat deh foto-foto cantik dengan elemen chopping board, cantik kan?


Image courtesy of (searah jarum jam dari kiri ke kanan) : Sylvie Gill, Elsye Suranto, Vania, Dita, Arfi Binsted, Dita

3. Warna-warna background (bisa berupa kain, bisa berupa kertas/karton) yang wajib dimiliki : putih dan warna-warna pastel, coklat, hitam, abu-abu. Warna-warna netral cocok untuk semua jenis makanan, sementara warna pastel yang ceria cocok untuk cookies, ice cream dan cake (tapi inget juga, mood yang ingin didapatkan apa). Feel free untuk bereksperimen. Mix n match mana yang cocok. Gue pernah bereksperimen tabrak motif seperti ini :


image courtesy of Dita

Kunci dari permainan tabrak motif adalah : gunakan warna-warna dengan tone yang sama. Pada foto di atas, gue bermain dengan warna hitam putih. Piring yang gue pilih adalah piring hitam dengan polkadot putih, piring putih dengan aksen hitam dan loyang berwarna hitam polos. Warna merah gue gunakan untuk memberikan aksen dan membuat foto lebih hidup.

4. Miliki beberapa item bernuansa etnik.


image courtesy of Vania

5. Properti bernuansa kayu juga sering digunakan. Paling nggak, mangkok, sendok dan garpu kayu.


image courtesy of (kiri ke kanan) : Dita, Rita Bellnad, Mindy Jordan

6. Aksen tanaman atau bunga bisa membuat suasana menjadi hangat, menimbulkan kesan cantik dan memecahkan suasana kaku dan dingin.



image courtesy of (kiri ke kanan) : Rita Bellnad, Elsye Suranto, Dwiana, Arfi Binsted

7. Miliki beberapa serbet atau tea towel dalam warna netral.

Ini beberapa koleksi tea towel gue yang jumlahnya gak genap :D, rata-rata cuman ada 1 piece.

image courtesy of Dita

C. Styling
Setelah itu, pikirkan styling makanannya. Yang agak tricky kalo kita berurusan sama hasil cooking. Sayur yang tadinya tampak segar, begitu diolah bisa jadi keliatan layu, warnanya pudar dan tampak gak menarik.

Tips :
1. Ambil foto makanan fresh dari oven atau begitu selesai dimasak. Apalagi masakan (gue paling males soalnya rada ribet musti ekstra fokus dan ekstra treatment), jangan tunggu sampai berjam-jam kemudian. Penampakan fresh yang menggugah selera besar kemungkinan didapat setelah selesai dimasak.



image courtesy of (searah jarum jam, kiri ke kanan) : Arfi Binsted, Eliza, Eliza, Dita

2. Untuk foto makanan sejenis capcay atau model-model stir fry, begitu setengah matang, warnanya masih segar dan belum layu, sisihkan semangkuk untuk dijadikan obyek foto. Sebelum difoto, olesi sayuran dengan minyak goreng supaya terlihat mengkilat.



image courtesy of (searah jarum jam, kiri ke kanan) : Dita, Elsye Suranto, Dita, Dita

3. Jika memotret masakan berkuah jangan biarkan kuah memenuhi mangkuk sampe-sampe makanan keliatan becek kelelep kuah, gak menggugah selera. Usahakan kuah hanya setengah mangkuk dan isinya bisa terlihat. Maksudnya kalo menata opor ayam ya ayamnya keliatan, kalo menyajikan sayur asem ya sayurannya keliatan dst.


image courtesy of Mindy Jordan

4. Jaga kebersihan. Perhatikan apakah ada cipratan masakan yang tidak diinginkan dan bisa merusak suasana. Hal ini boleh diabaikan kalo memang mood dan temanya messy. Atau memang "noda" atau "cela" tidak berdiri sendiri di tengah-tengah setting rapi ala tante Martha Stewart. Terkadang serbet yang terlipat seenaknya, sendok yang berantakan, alas kertas yang kusut, saus yang tumpah, botol merica yang terguling bisa memberikan kesan homey dan natural. Balik lagi ke mood/tema yang ingin ditampilkan kan?

contoh foto-foto dengan mood messy :


image courtesy of (searah jarum jam dari kiri ke kanan) : Dita, Dita, Dita, Arfi Binsted, Sheila, Dita

Ada coklat yang berantakan, botol yang terguling, potongan delima, lelehan adonan, gigitan kue, kertas yang lecek, dll.

Coba mampir ke sini, untuk melihat jenis-jenis foto messy yang progresif, bold dan berani.

5. Sedia lap untuk membersihkan tangan di area foto. Kadang kita asik-asik atur-atur makanan, tangan colak colek sana sini trus megang kamera.....hiyaaaa....akhirnya minyak dan remah-remah makanan nempel di kamera. Kalo gue pribadi, suka males bawa lap, akhirnya baju jadi korban.....kakakakakkkk.... Jangan ditiru ya, jorok!

D. Komposisi
Okeh *narik nafas panjang*, sampailah kita di tahapan yang agak sedikit membuat berkeringat :D. KOMPOSISI. Yup, tata letak yang membuat sebuah foto jadi enak dilihat. Terus terang gue puyeng dan capek baca-baca teori komposisi seperti spiral perspective, "a" perspective, dll. Kalo ada yang punya bukunya Lou Manna "Digital Food Photography", teori-teori kayak gini ada di situ. Buat gue pribadi, kuncinya sederhana : KESEIMBANGAN. Teori-teori itu cuman sekedar wawasan aja.

Tips :
1. Meletakkan properti dan menata meja adalah sebuah seni tersendiri. Keseimbangan maksudnya dalam meletakkan elemen-elemen pendukung tidak menjadikan sebuah foto terlihat terlalu berat di satu sisi. Misalnya terlalu berat di bawah, terlalu penuh di samping, terlalu riweuh di atas, dst. Dalam food photography ada istilah repeat. Repeat mengacu pada obyek yang bisa menyeimbangkan obyek lainnya. Obyeknya tidak harus selalu sama dengan obyek yang direpeat. Contohnya :


Foto hasil jepretan Rita Bellnad ini repeatnya jelas sekali. Mangkuk berisi kering tempe di kanan bawah di repeat dengan mangkuk berisi piring tempe juga di kiri atas. Lalu sendok kayu di repeat dengan vas berisi bunga. Seimbang kan?


Foto hasil jepretan gue ini me-repeat gelas putih dengan koran. Piring gak perlu di repeat karena letaknya sudah seimbang di tengah.


Di foto gue ini, piring berisi ayam di depan yang tidak center di repeat dengan keberadaan botol susu di kiri atas. Kemudian jeruk utuh di kanan belakang di repeat dengan potongan jeruk di depan supaya komposisi jadi seimbang. Coba kalo potongan jeruk di depan itu di buang, pasti jadi gak seimbang.


Di foto milik Rita Bellnad ini, garpu di repeat dengan gelas di belakang. See, repeat gak selalu harus dengan benda yang sama, kan?

Kalo ini contoh foto yang rada gak enak dilihat karena kurang seimbang, ada yang tau gak seimbangnya di mana?


Di foto gue ini ada satu bidang kosong di pojok kiri bawah. Sebaiknya pojok kosong itu gue isi dengan cookies untuk me-repeat tutup toples dan gelas di kanan belakang. Foto ini terlalu berat di sisi kanan.

2. Yang perlu diperhatikan juga adalah permainan grafikal atau ilusi grafikal yang membuat foto jadi seimbang. Permainan grafikal bisa didapat dari peletakan obyek makanan seperti ini :


Untuk menyeimbangkan foto gue ini yang cenderung berat ke kanan (gimana gak berat....ada tissue dengan motif circular, ada mangkok berisi sajian dan ada sendok. Semuanya cenderung di kanan), gue meletakkan lemon di pojok kanan belakang dan mengarahkan sendok ke arah kiri belakang.


Irma memanfaatkan motif garis-garis pada taplak biru untuk mengarahkan obyeknya. Gelas puding dan sendok ditata mengarah ke kiri atas. Lihat arah gelasnya kan dengan dengan kuping gelas berada di posisi bawah, seolah gelas mengarah ke atas? Untuk mengisi bidang kosong, Irma meletakkan sendok di kanan atas.


Sheila menata piring-piringnya membentuk garis lurus ke arah belakang.


Sementara gue, mencoba bermain dengan garis diagonal dan permainan elemen lingkaran dari kertas tissue, muffin disusun sejajar mengikuti garis-garis alasnya.

Atau peletakan properti pendukung, seperti arah sendok, garpu, sumpit, kuping gelas, serbet, dsb. Contohnya :


Sumpit sengaja gue tata untuk mengarahkan perhatian orang terus ke belakang, ke arah makanan di belakang. Jadi mata orang gak lari saat ngeliat foto ini


Sendok dan piring ditata Rita Bellnad membentuk pattern segitiga dengan repeat yang sama di obyek belakang.


Peletakan sendok, memperkuat foto puding ini ke arah kanan. Tapi Elsye berhasil menyeimbangkannya dengan meletakkan bunga di pojok kiri atas, sehingga foto gak jadi berat ke kanan.

3. Foto cantik tanpa elemen pendukung macam-macam pun bisa saja didapat dengan tetap memperhatikan efek yang menerbitkan air liur dan PERMAINAN CAHAYA. Ini contoh obyek individual tanpa permainan props macem-macem. Tetap menggugan selera kan? :



Kiri ke kanan :
Riana Ambarsari, Elsye Suranto,
Dita,
Eliza, Dita
Elsye Suranto

4. Extreme close up untuk food photography sebaiknya jangan terlalu sering digunakan. Gak keliatan ambiance dan mood yang ingin dibangun soalnya. Dan kalo buat gue sih, fotonya jadi gak berbicara banyak/bercerita. Terlalu close up sampe bentuk aslinya gak keliatan.

Sounds complicated??? Memang gak sesederhana yang dibayangkan kan. Tapi kalo udah terbiasa, semua akan otomatis dan mengalir dengan sendirinya kok....by feeling aja. Gue juga gitu kok kadang udah main feeling aja. Keep practicing dan rajin ngliatin karya orang aja.

Terus, apakah foto yang bagus selalu dihasilkan dari segala tetek bengek ini? Nggak kok. Minimalis juga bisa jadi bermakna. Hanya dengan sebuah background putih dan properti sederhana. Semuanya tergantung dari tujuan yang ingin kita capai. Kuncinya ada di permainan cahaya dan penataan makanan yang artistik. Foto-foto model begini bagus untuk keperluan packaging, daftar menu resto dan buku resep karena yang utama di sini adalah fokus ke makanannya. Atau kalo kita mau jualan foto ke stock agencies, biasanya mereka seneng dengan foto-foto background putih supaya mudah di edit.


image courtesy of Dita

ini contoh product shot :

image courtesy of (kiri ke kanan) : Sylvie Gill, Regina Budiardjo

Sampe sini dulu ya. Nanti malah makin luas pembahasannya, karena bakal nyangkut-nyangkut juga di urusan trend dalam food photography, penggunaan DoF untuk menonjolkan obyek, dst. Jadi yang ini sampe sini dulu aja ya. Pelan-pelan aja belajarnya.

Seperti yang udah gue bilang di atas bahwa urusan ini subyektif sifatnya (lebih asyik learning by doing, mlototin cooking book/majalah-majalah cooking dan memperhatikan karya orang lain), maka gue banyak menggunakan contoh karya-karya cantik milik temen-temen gue yang berbakat.

Thanks to my talented friends : Arfi Binsted, Dwiana, Vania, Eliza, Riana Ambarsari, Regina Budiardjo, Sheila, Irma, Elsye Suranto, Mindy Jordan, Rita Bellnad, Sylvie Gill atas kemurahan hati dan ijinnya sehingga gue bisa menggunakan karya-karya hebat mereka dalam tulisan ini.

Sharing Food Photography lainnya :
1. Memaksimalkan Fungsi Kamera Saku Digital
2. Resep Mengenal ISO
3. How Do I Shoot My Foodie Pics?
4. Mengenal Depth of Field

8.17.2008

Mengenal Depth of Field

"Mbak, gimana sih bikin background foto jadi blur?"



Pertanyaan semacam ini adalah yang paling banyak gue terima. Banyak yang penasaran rupanya sama foto makanan dengan background yang blur :). Ok, berarti kita akan ngomongin soal Depth of Field di sini. Mungkin banyak yang udah tau atau mungkin juga banyak yang udah pernah denger tapi gak mudeng atau memang ada yang belum tau sama sekali.

Wo wo wo....Tenang...Jangan kabur dulu ;), gue gak akan menjabarkannya dengan segala bentuk diagram segitiga yang mengarah ke sana kemari bikin bingung, Circles of Confusion yang emang bener-bener bikin bingung :D. Ngantuk bow bacanya ;). Penjelasannya akan sangat sederhana bahkan mungkin basic banget.

Apa itu Depth of Field (DoF)?
Penjelasan sederhananya adalah sebuah area/bagian pada sebuah scene foto yang terlihat tajam.

Pernah denger DoF dangkal/sempit/shallow/narrow dan DoF dalam/luas/wide/deep?

DoF dangkal itu maksudnya obyek foto terlihat tajam dengan backgound yang blur/out of focus. Sedangkan DoF dalam maksudnya obyek terlihat tajam sampai background-backgroundnya, biasanya sering terlihat atau digunakan pada foto scenery atau pemandangan alam.

Karena kita bermain di area food photography tentunya akan lebih sering bersentuhan dengan DoF dangkal. Hampir sebagian besar foto-foto makanan gue menggunakan DoF dangkal. Tulisan ini pun akan lebih difokuskan pada DoF dangkal.

contoh DoF dangkal/shallow (bagian depan terlihat jelas, sementara cuppies yang di belakang blur)



contoh DoF dalam/deep (dari depan sampai belakang tertangkap jelas kan? gak out of focus)


Lalu bagaimana caranya mendapatkan DoF dangkal? Eh, jangan ngantuk ya, ini agak tehnikal sedikit. Ya kalo mau dapet hasil bagus harus usaha dong :P. Yuk ambil kameranya, coba diliat setting aperture-nya atau f-stop-ya. Biasanya ditandai dengan icon AV atau A, berupa angka-angka 1.4, 1.8, 2.8, 3.5, 5.6, 7.1 , 8.0, dst. Udah nemu? Kalo gak ada, mungkin yang pake kamera pocket bisa cari settingan makro/close up, ada yang aperture-nya bisa di set, kalo gak bisa di set jangan salahin gue ya mak, berarti emang dari sononya begitu :D. Ok, buat yang bisa di set : untuk mendapatkan DoF dangkal berarti kita harus bermain dengan aperture/f-stop. Semakin kecil angka f-stop yang kita gunakan, misalnya 1.8 atau 2.8 akan semakin blur backgroundnya. Sementara, semakin besar angka f-stop yang digunakan, misal 10, maka background pun akan terlihat jelas. Inget ini aja : Lower number, more blur. Higher number, more clear.

Ini contohnya :




Gimana? Jelas kan bedanya? Lower number, more blur. Higher number more clear.

Dalam food photography, bukan berarti DoF dalam gak pernah dipake. Gue sendiri bukan gak pernah pake, tapi jarang. Biasanya gue gunakan untuk jenis angle foto Bird Eye View atau angle tampak atas, yang kadang keseluruhan obyek perlu terlihat dengan jelas. Untuk angle-angle Bird Eye View, gue biasa menggunakan f-stop 8 dan 10.

contoh-contoh Bird Eye View Angle




Sedangkan untuk DoF dangkal, gue paling sering menggunakan f-stop 2.8, 3.5 dan 4.0.

Ini ada sedikit pengetahuan, kayaknya saat ini, kalo kita ngomongin soal DoF gak lepas dari istilah Bokeh (istilah fotografi yang berasal dari bahasa Jepang "Bokeaji" yang artinya blur, dan mulai populer sejak tahun 1996). Mungkin ada yang pernah denger? Ada kesalahkaprahan yang beredar bahwa DoF itu adalah Bokeh dan Bokeh itu adalah DoF. Bokeh dan DoF emang saling terkait, dua-duanya juga berhubungan dengan aperture dan jarak ambil. Hehehe....agak rancu emang. Kalo DoF itu berkaitan dengan bidang yang tajam, sedangkan Bokeh itu berhubungan dengan area out of focus atau blur. Jadi kalo kita lihat sebuah foto dengan obyek tajam dan background blur....nah yang dimaksud Bokeh itu adalah area yang blur itu.

Bokeh sendiri sekarang menjadi seni tersendiri. Kualitas Bokeh yang bagus tentunya juga tergantung dari lensa yang dimiliki. Katanya juga nih (sorry soalnya gue sendiri gak terlalu mendalami seni Bokeh), Bokeh yang bagus itu yang blur obyeknya bener-bener udah gak terdefined lagi bentuknya, sisi-sisi dari obyek tidak nyata terlihat.

1. Poor Bokeh


2. Neutral Bokeh


3. Good Bokeh

Image courtesy of Kenrockwell

Silahkan lihat seni Bokeh di sini.

Belajar Food Photography yuk :
1. Memaksimalkan Fungsi Kamera Saku Digital
2. Resep Mengenal ISO
3. How Do I Shoot My Foodie Pics?

8.13.2008

Puff Pastry Soup

In Indonesia, we called this Zupa Soup (I don't know what's the idea of using this name). Zupa means Soup, right? ;). Similar with Puff Pastry soup because it uses puff pastry on top.

Zupa Soup 3

This is a great way when you're too lazy to cook. You can use canned soup but we've never consumed any canned soup. Sure, canned soups are easy but most have an especially high sodium content (even the low ones are high, is it not?). Since I've found a homemade-way to do it, I always make it on my own. Our favorite is creamy soup, made with flour and butter roux.

And I bring this soup as a potluck for MFM # 18 : Flour hosted by Ienas.



Puff Pastry Soup

Zupa Soup

Ingredients :
2 tbsp butter
1 tbsp finely chopped garlic, add more if you're garlic maniac like me ;)
1 tbsp finely chopped onions
2 tbsp all purpose flour
4 cups chicken broth
Chicken, cut into tiny pieces, if you like
Mushroom
Carrots, cut into tiny bites
Salt and Pepper to taste
3 tbsp whipping cream (optional)

For Pastry Hat :
Ready made pastry. You can buy this from any big supermarkets.
1 egg yolk, lightly beaten

Directions :
1. Heat some butter. Saute garlic and the onions, then whisk in the flour to make a smooth roux.
2. Slowly add chicken broth while stirring. Simmer, stir often, till thickened. Add chicken, carrots and mushroom. Bring to a boil. Season with salt and pepper. Add the cream to taste. Remove from heat. Let it cool.
3. Take the pastry which had been thawed. Cut it into round shape if you like, or leave it in its square shape. Fill the oven-safe mug with the soup about 3/4 full. Brush the rim of the mug with the egg and lay the pastry on top. Press down the sides. Brush the top of the pastry with the remaining egg wash. Bake at 375 F for about 15 to 20 minutes until the pastry is golden.
4. Serve warm.

8.09.2008

Red & White : Sweet Rice Balls Stuffed with Strawberry Compote

Looks like Klepon?

Sweet Rice Ball Stuffed with Strawberry Compote

Actually I didn't mean to make klepon. Klepon is Indonesian sweet pandan rice balls stuffed with palm sugar and covered with desiccated coconut. I just wanted to use up my almost expired rice flour and the leftover strawberry compote.

After googling around, I found 2 recipes that looks interesting. The first recipe is pretty similar with klepon. You can find the recipe here. The second one is mochi recipe, soft and chewy Japanese rice cake, but looking at the ingredients and composition of the recipe I don't think it will turned out to be mochi-like (here for the recipe).

I couldn't make up my mind, which recipe I would prefer. So with a little re-worked from me, I create my own rice balls. I modified and combined the ingredients and methods from that 2 recipes. And the result.......
They turned out to look like klepon but the taste is between klepon and mochi. Sweet, sour (from the compote) and chewy.

Dhi, Fitri and Dwi, here's my entry for Red & White Foodie Photo Contest to celebrate Indonesian Independence Day.

Sweet Rice Balls Stuffed with Strawberry Compote

Sweet Rice Ball Stuffed with Strawberry Compote

Ingredients :
1/2 cup glutinous rice flour
1/4 cup sugar
1 cup water
1/2 cup tapioca flour

Directions :
1) Combine glutinous rice flour, sugar and water, mix well.
2) Pour into sauce pan, bring to a boil for about 3-5 minutes. Remove from heat.
3) Set aside to cool.
4) Add tapioca flour, smear both of your hands with cooking oil, shape into balls filled with strawberry compote.
5) Fill a large bowl half full with water & bring to a boil. Cook the rice balls for 4 to 5 minutes or until they start to float.
6) While still hot, coat the balls with the coconut. Serve warm.

Strawberry Compote

Ingredients :
2 cup strawberry, halved
1/2 cup sugar
5 tbsp lemon juice
2 tbsp balsamic vinegar (optional)


Directions :
1. In a saucepan combine the strawberry, sugar and lemon juice over medium heat. Bring to a boil, stirring occasionally, until sugar dissolves (3-5 minutes).
2. Simmer for 7-10 minutes or until rhubarb is tender. Add balsamic vinegar. Remove from heat.

On the next day, I made this french vanilla cake from Betty Crocker topped with the leftover strawberry compote. Still in the mood for red and white ;)

Vanilla Cake with Strawberry Compote



Red and White


8.07.2008

How Do I Shoot My Foodie Pics?

I received some comments and e-mails questioning about my foodie pics. One of the e-mail comes from my dearest friend, Patricia Scarpin *don't worry dear, I have no secret. I don't mind at all and gladly share it*. First, let me apologize for taking so long to answer your questions.

The reason why do I post my answer here, is because this topic is interesting and I want to share it among my other friends whose got the same question.

The question is how do I get such a light and white background in my pics?

I may not good in explaining, so I try to figure it out by picture. Hope, it's understandable.

Lighting is the important key here. I always shoot my food pics with a natural lighting close to the window. I never use direct sunlight, because it's just too harsh.



Another important point is the right angle. This is my favorite angle. You can see where the light comes from. Yes, I tend to use backlight to get such a light and white background. Sometimes, it looks a bit burned out on the background but I love the effect.



This is the Yakitori Shot!



Can you see where the light comes from? Yes it comes from the back of the object.

Hope it helps. Just let me know, if you have any question :)

8.06.2008

Copyright and Cherry Cobbler Recipe

Yesterday, due to a copyright issues, I was worry about copying recipe from someone's book and then publish it on my own blog. Some people said that people have been blogging from books and it wouldn't be any problem as long as we mention the source of the recipe. But still, I feel awkward doing this copy and paste thing from the book to my blog. On the other side, I got a brilliant insight from V, she gave me good examples, you can read here and here. *thanks V :)*

And then my dearest friend Sefa suggested me to ask David *thanks Fa, what a smart idea, why I didn't think about it before? (d'oohh) Why not e-mailing the author himself? * Well, it's fair enough. So, I decided to e-mail David Lebovitz himself to tell about my anxiety of using and copying the recipe from his book Ripe For Dessert and then ask him, what if I publish it on my blog.

And you know what?? He's such a very nice and generous man. He replied my e-mail so quickly, less than 2 hours I guess :). Here's his answer :

Thanks for your message. You're welcome to use a recipe, the general consensus is to use the words "adapted from Ripe For Dessert". So glad you like the book.... happy baking!

David

Now, nothing to worried about. I supposed he doesn't mind at all. I think this is the fairest way to me, asking for permission to the author.

Here's the recipe, adapted from the book "Ripe For Dessert" by David Lebovitz :

Cherry Cobbler with Big Fluffy Biscuits

Nectarine and Blueberry Cobbler with Big Fluffy Biscuits
6 servings

The Fruit Filling :
7 medium or 9 small nectarines
6 tbsp sugar
2 tsp fresh lemon juice
2 tsp flour
1 tsp vanilla extract
One 6 ounces basket of blubberies
(dita-I used cherries instead of nectarines and bluberries)

The Biscuits :
1 1/2 cups flour
1 tsp baking powder
1/4 tsp baking soda
1/4 tsp salt
2 tsp sugar plus more for sprinkling
4 tbsp (1/2 stick) unsalted butter, frozen
2/3 cup buttermilk
1 large egg yolk
1 tsp milk

Methods :
1. Position the oven rack in the center of the oven and pre-heat the oven to 375˙.
2. To make the fruit filling : Cut the nectarines in half, remove the pits (dita-I did the same for the cherries) and cut the fruit into 1/2 inch slices. In a large, deep mixing bowl, toss the nectarines together with the sugar, lemon juice, flour, vanilla and blueberries.
3. Transfer the fruit mixture to a 2-quart baking dish and bake in the oven for 40 minutes (dita-30 min), stirring once during baking. (David recommended putting a layer of aluminium foil on the rack under the baking dish to catch any juices that may bubble over). Remove the baking dish from the oven.
4. To make biscuits : Mix together the flour, baking powder, baking soda, salt and 2 tsp sugar. Using the largest holes on a box grater, grate the frozen butter into the flour mixture. Stir in the buttermilk until the dry ingredients are just moistened. Spoon the biscuit batter over the nectarines in 6 roughly equal mounds.
5. Mix the egg yolk with the milk and dab the top of each mound liberally with the egg wash. Sprinkle with a nice dusting of sugar and pop the cobbler back into the oven for 20-25 minutes, until the biscuits are browned.

Serving : Serve the cobbler warm with vanilla ice cream or a pitcher of very cold heavy cream.

Dirty Dish

Related Link :
1. Cherry Cobbler with Big Fluffly Biscuits
2. Cherry Clafoutis

8.05.2008

Cherry Cobbler with Big Fluffy Biscuits

I've been dreaming of this book since couple of months ago. It's David Lebovitz's, Room For Dessert. But, I didn't expect too much, what a pity that I can not find the real bookshop (I mean not just a stationery store) with good quality collections of books, here in Kuwait.



One day, my lil' family and I went to Al Manara Bookshop as our Saturday Bookshop Day ritual. Just looking around and checking some new mags.

As usual, I was occupied with cooking books *baca doang gak beli*. Actually I was thinking over to take Donna Hay's Modern Classic (Book 1).



When I was searching through the rack, books by books, suddenly my eyes were catching at a book. To my surprise it was clearly written David Lebovitz Ripe For Dessert. I was so thrilled. But.....wait wait! That wasn't Room For Dessert but Ripe For Dessert? I didn't care anyway :D, anything will do as long as it's David Lebovitz's :P. Besides, it was the only one from Mr. Lebovitz in that bookshop, so I had more reason to grab the book ;).

Ripe for Dessert

Lebovitz say that this dessert is very low in the f-word (fat, that is), since the use of buttermilk and only modest amount of butter in the biscuits.

Cherry Cobbler with Big Fluffy Biscuits

So you don't have to feel guilty to enjoy this with a rewarding scoop of your favorite ice cream ;).

Cherry Cobbler

Due to the copyright issue, I am not really sure to post the recipe here eventhough I will mention the source of the recipe (I don't know....you tell me, I have no idea whether it's ok to share the recipe here? If it's possible, I will post it later). Usually I copied and pasted recipes from someone else's blog and always mention the source :), but now since I have the book, I don't know what to do. *hehehe....biasanya asik-asik copy paste aja, begitu punya sendiri bukunya, jadi kelimpungan....norak!*




8.04.2008

Mango Ice Cream

Another summertime delight. What do you want the most, to refresh your day in a 50˙C day? Yup 50˙C, I'm not joking.

Ice Minty Tea

For me, I had enough with a cup of ice mint tea. But the girls? Their day wouldn't be complete without a glass of ice cream. And lucky me, they wouldn't mind to eat mommy's homemade ice cream ;).

Mango Ice Cream

And our favorite one is fruit based ice cream. This time I made mango ice cream. I used the pomegranate ice cream recipe. Sustituted the pomegranate with mango and skipped the balsamic vinegar.

Mango Ice Cream

Another Ice Cream Recipes, no ice cream maker is needed :
1. Nuttela Ice Cream
2. Cocoa Ice Cream
3. Strawberry Ice Cream
4. Pomegranate Ice Cream